Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Manakib Ulama

KH. KI AGENG HASAN BESARI TEGAL SARI PONOROGO - GURU PUJANGGA KI RONGGO WARSITO

Pada paroh pertama abad ke-18, hiduplah seorang kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari di desa Tegalsari, yaitu sebuah desa terpencil lebih kurang 10 KM ke arah selatan kota Ponorogo. Di tepi dua buah sungai, sungai Keyang dan sungai Malo, yang mengapit desa Tegalsari inilah Kyai Besari mendirikan sebuah pondok yang kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Tegalsari. Dalam sejarahnya, Pondok Tegalsari pernah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di Pondok ini. Mereka berasal dari hampir seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, misalnya desa Jabung (Nglawu), desa Bantengan, dan lain-lain. Jumlah santri yang begitu besar dan berasal dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang itu menunjukkan kebesaran lembaga pendidikan ini. Alumni Pondok ini banyak yan...

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (bag. 1)

Santrionline.net ~ Sewaktu awal saya mondok 6 tahun di Baitul Arqom al-Islami Ciparay Bandung, pada Kyai Ali Imron Faqih, adik iparnya Kyai Ilyas Ruhiyat. Setelah itu melanjutkan ke Kyai Mudzakir di Banyurip Pekalongan, murid dari Mbah Dimyathi Termas, saya dapat ijazah Dalail dari beliau. Anehnya oleh adik Kyai Mudzakir –sosok unik yang selama 40 tahun tidak pernah keluar kamar- saya diajarkan cara berdebat dan cara mempertahankan Ahlussunnah wal Jama’ah lewat surat yang ditulis sangat bagus oleh beliau, termasuk diajarkan mencintai para habaib. Dari Kyai Mudzakir lah saya dipertemukan dengan Habib Luthfi Bin Yahya, yang waktu itu masih muda, dan Habib Ali Alattas (guru Habib Luthfi) saat itu masih hidup. Habib Ali Alattas adalah habib sepuh di Pekalongan yang unik. Tidak bisa melihat tapi mampu mengajar kitab Syarah Bukhari, yang berarti beliau hafal kitab tersebut di luar kepala. Dari Habib Luthfi saya minta petunjuk, dan dijawab oleh beliau,  “Nanti setelah beres dari Kyai Mudz...

Kenapa Habib Luthfi Fanatik Kepada NU? Ini Jawabannya

Santrionline.net ~ Dulu saya sering duduk di rumahnya Kyai Abdul Fattah, untuk mengaji. Di situ ada seorang wali, namanya Kyai Irfan Kertijayan. Kyai Irfan adalah sosok yang nampak hapal keseluruhan kitab Ihya Ulumiddin, karena kecintaannya yang mendalam pada kitab tersebut. Setiap kali ketemu saya beliau pasti memandangi dan lalu menangis. Di situ ada Kyai Abdul Fattah dan Kyai Abdul Adzim. Lama-kelamaan akhirnya beliau bertanya, “Bib, saya mau bertanya. Cara dan gaya berpakaian Anda kok sukanya sarung putih, baju dan kopyah putih, persis guru saya.” “Siapa Kyai?” jawabku. “Habib Hasyim bin Umar,” Jawab Kyai Irfan. Saya mau ngaku cucunya tapi kok masih seperti ini, belum menjadi orang yang baik, batinku dalam hati. Mau mengingkari/berbohong tapi kenyataannya memang benar saya adalah cucunya Habib Hasyim. Akhirnya Kyai Abdul Adzim dan Kyai Abdul Fattah yang menjawab, “Lha beliau itu cucunya.” Lalu Kyai Irfan merangkul dan menciumiku sembari menangis hebat saking gembiranya. Kemudian...

KH. Bisri Musthofa

KH. Bisri Musthofa Rembang - santrionline.net KH. Bisri Musthofa lahir di desa Pasawahan, Rembang Jawa Tengah pada tahun 1915 dengan nama Masyhadi, putra pertama H. Zainal Musthofa dengan istri keduanya yang bernama Khodijah. Nama Bisri adalah nama yang ia pilih sendiri sepulang dari menunaikan ibadah haji. Setelah lulus dari sekolah jawa “Ongko Loro”, Bisri kecil mulai dengan pengembaraannya dalam rangka menuntut ilmu, berawal dari pesantren Kajen Pati, sekitar lima tahun, kemudian pulang dan mondok di pesantren Kasingan Rembang (tetangga desanya sendiri) dalam bimbingan kiyai Kholil. Kira-kira sekitar lima tahunan disana, tepat berumur duapuluh KH. Bisri Musthofa dinikahkan oleh kiyai Kholil dengan putrinya sendiri yang bernama Ma’rufah. Setahun setelah menikah KH. Bisri Musthofa kembali menunaikan ibadah haji dan menetap selama dua tahun lebih di Makkah guna memperdalam ilmu agamanya. Selang setahun dari kepulanganya dari Makkah KH. Bisri Musthofa menggantikan posis...

MENGENANG GUS DUR, MATAHARI TELAH PULANG

Oleh : Abuya Husein Muhammad Langit Desember yang murung Jam 19.00, satu hari menjelang tahun 2009 berganti, HP tiba-tiba berdering dan bergetar-getar, mengganggu makan malam gratis saya di rumah makan “Jepun”, milik Nur, sahabat saya. Jay, wartawan Koran Sindo menanyakan kabar mengejutkan, mengkonfirmasi. “Bagaimana Gus Dur, aku dengar beliau wafat, apa benar ?" , katanya tegang. Dengan dada berdegup, saya segera menghubungi A.W. Maryanto, teman yang selalu mendampingi Gus Dur di Rumah Sakit. Jawabannya tak meyakinkan. Katanya, “Aku baru saja istirahat dari rumah sakit, dan sekarang sedang makan. Jam 17.00 tadi, 18 orang dokter khusus telah memeriksa kesehatan Bapak dan beliau sudah membaik”. Tetapi saya penasaran. Yenni, putri kedua Gus Dur, saya kontak. “Bapak wafat, mbak Yenni di dalam” , suara Innayah, putri bungsunya, lirih bergetar, tersekat dan singkat. Dan saya terkulai lemas. Langit 30 Desember 2009 tiba-tiba menjadi murung. Saya segera sms Ibu Shinta, isteri tercinta G...

Jangan sampai Generasi NU enggak tahu lagu Ya Lal Wathan, Yuk download di sini

Download Lagu Ya Lal Wathan karya KH Abdul Wahab Chasbullah KLIK >>  # Ya Lal Wathan” Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional #   Jombang, SANTRIONLINE "Kini dalam proses penyelesaian oleh tim sebelum nanti ditetapkan jelang peringatan hari pahlawan, 10 November 2016," ujar Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansah saat menghadiri Haul pendiri , penggerak NU, KH Wahab Chasbullah ke-45 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (13/8) malam. Mensos menambahkan, lagu Cinta Tanah Air yang diciptakan KH Wahab Chasbullah ini menurutnya layak untuk menjadi salah satu lagu nasional. Karena menggelorakan semangat cinta tanah air yang sangat luar biasa. (Unduh Lagu Ya Lal Wathan di Sini) "Kita tahu lagu-lagu nasional sejak lama tidak ada perubahan, sejak saya duduk di SD lagu-lagu nasional tidak ada perubahan. Ketika lagu ini saya perdengarkan ke tim yang sudah menggodok ternyata layak untuk dijadikan lagu nasional," imbuh Khofifah yang...

Kyai 1001 Senyuman, K.H Abdullah Kafabihi Mahrus

Nama lengkap beliau adalah  Abdullah Kafabihi Mahrus . Lahir di Kediri tanggal 2 September 1960. Beliau adalah putra ke 12 dari 14 bersaudara dari pasangan KH. Mahrus Aly dan Ny. Hj Zainab dan cucu dari pendiri Pondok Pesantren Lirboyo kota Kediri yakni  KH. Abdul Karim . Beliau sekarang bertempat tinggal di ndalem yang ada di Pondok Unit HMC tepatnya di  JL. KH. Abdul Karim Rt.01 Rw.01 desa Lirboyo kecamatan Mojoroto Kota. Kediri. Secara geografis, ditinjau dari arah sebelah timur P3HMQ, terletak 100 M dari pondok induk Lirboyo dan jika dari arah sebelah barat balai desa Lirboyo, juga 100 M. Sebelum dihuni oleh beliau, rumah tersebut di huni oleh kakak kandungnya yang bernama Al marhum Al Maghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus. Semasa kecil, beliau adalah sosok anak yang terbilang bandel. Mungkin hal ini dikarenakan beliau lebih condong untuk menggulati dunia pendidikan umum dari pada dunia pesantren, padahal ayahandanya, KH. Mahrus ‘Aly lebih...

MENGENAL LEBIH DEKAT KH. MUHAMMAD MUHADJIRIN ULAMA BETAWI PENGARANG 34 KITAB MONUMENTAL

Masjidil Haram , Medio 1950-an. Seorang santri asal Malaysia menawarkan posisi tinggi kepada sang guru yang masih lajang untuk menjadi Mufti Malaysia. Menggiurkan ? Sayang, tidak baginya. Ia menolaknya dengan tegas. Alasanya cuma satu, ia masih betah di Tanah Suci, masih suka belajar dan mengajar di tempat yang mulia itu. Namun, tidak lama kemudian, ketika ibunya, Hj. Zuhriah meminta pulang, ia tidak bisa menampik. Ia taat dan patuh, serupa batu es yang meleleh menjadi air. Rupanya, ia menyadari tidak ada yang mampu menandingi panggilan orangtua. Dan dia adalah KH. Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary . Fragmen tersebut penulis nukil dari salah satu muridnya, KH. Fachruddin MA ., yang konon pernah dikisahkan almarhum saat ta’lim selepas Shubuh di pesantren yang didirikanya, Pondok Pesantren Annida Al-Islamy Bekasi. Memang, di Mekkah, kala itu KH. Muhammad Muhadjirin bukanlah nama asing. Ia bahkan salah satu murid kesayangan Syekh Yasin Al-Fadani , seorang ulama masyhur asal Pad...

KH. Ma'shum Ali, Kiai Islam Nusantara Sederhana yang Mendunia

Diceritakan, seumur hidup beliau hanya mempunyai satu foto dan ketika akan meninggal beliau membakar fotonya tersebut karena takut identitasnya diketahui orang. Foto di bawah adalah salah satu karya tulis dari Kiai Ma'shum Ali menantu Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy'ari. Kesederhanaannya membuat banyak orang tidak mengenal tokoh alim yang satu ini. Padahal beliau adalah pengarang kitab Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah. Sebuah kitab ilmu sharaf yang amat masyhur di Nusantara, bahkan di luar negeri. Nama lengkapnya, Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Jabbar Al-Maskumambani. Lahir di Maskumambang, Gresik, tepatnya di sebuah pondok yang didirikan oleh sang kakek. Setelah belajar pada ayahnya, Ma’shum muda pergi menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng Jombang. Ia termasuk salah satu santri generasi awal Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Pada masa itu, selain dituntut untuk belajar, para santri juga diharuskan ikut berjuang melawan penjajah. Kedatangannya ke Tebuireng disusul oleh adik...

Menolak Lupa, Mufassir Tanah Pasundan

K.H Ahmad Sanusi atau yang biasa dipanggil Mama' Ajengan (red; panggilan khas untuk kyai di tanah sunda) Sanusi, lahir di Kawedanan Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat pada tahun 1881 dan wafat di Pondok Pesantren Gunung Puyuh, Sukabumi yang beliau dirikan (tahun 1933) pada tahun 1950. Sebagai muassis ormas PUI (Persatuan Umat Islam) sosoknya tidak sepopuler muassis-muassis ormas yang telah dahulu ada, seperti NU & Muhammadiah. Namun walaupun begitu, beliau mempunyai sumbangsih yang tak bisa terbantahkan lagi atas terlahirnya ulama' - ulama' di Jawa Barat, ini terbukti dengan adanya pondok-pondok pesantren yang telah banyak di dirikan oleh santri-santri beliau. Di samping itu, sosok yang berpegang teguh pada madzhab Syafi'iyyah ini juga terkenal produktif dalam menulis kitab-kitab tafsir al-quran yang jumlahnya tidak bisa di bilang sedikit. Karyanya kurang lebih sekitar 250 buah, baik dalam bentuk buku, kitab, ataupun artikel. Antara lain : Pertama,  dalam bidang tafsir s...

Manakib (Biografi) Habib Hasan bin Soleh Al - Bahr Al - Jufri

Santrionline - Sumedang, Habib Hasan bin Saleh Al-Bahr Al-Jufri , seorang Ulama besar & Wali termasyhur, dikenal dermawan, ramah dan lemah lembut. Beliau lahir di Khali Rasyid, Hadramaut, pada tahun 1191 H / 1771 M. Sejak berusia dua tahun, beliau telah yatim, ditinggal ayahandanya, Saleh bin Bahr Al-Jufri. Beliau kemudian diasuh oleh ibu dan kakeknya, Sayyid Idrus  bin Abu Bakar Al-Jufri di Dzi Ishbah. Sejak kecil, beliau tinggal di lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan agama dengan semangat beribadah yang kuat. Mula-mula belajar membaca Al-Qur’an kepada syekh Abdurrahman Ba Suud. Kemudian belajar menghafal kitab suci itu dibawah bimbingan Syekh Abdullah bin Saad. Setelah itu beliau berguru ke sejumlah Ulama, seperti : • Habib Umar bin Zein bin Smith • Habib Umar bin Ahmad bin Hasan Al-Haddad • Habib Alwi binSaggaf bin Muhammad bin Umar Assegaf di Seiwun. Disana pula akhirnya beliau mendapat jodoh. Ketika dewasa, beliau berdakwah melalui beberapa majelis taklim keliling d...

Manakib (Biografi) Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang)

 Sejarah Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang) Santrionline- Suemdang, Bismillahir Rahmanir Rahiim Beliau adalah Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman bin ‘Abdullah bin Muhammad al-Habsyi. Lahir di Kwitang, Jakarta, pada 20 Jamadil Awwal 1286H / 20 April 1870M. Ayahanda beliau adalah Habib ‘Abdur Rahman al-Habsyi seorang ulama dan daie yang hidup zuhud, manakala bonda beliau seorang wanita sholehah bernama Nyai Hajjah Salmah puteri seorang ulama Betawi dari Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur. Adapun kakeknya, Habib Abdullah bin Muhammad Al-Habsyi, dilahirkan di Pontianak, Kalimantan Barat. Dia menikah di Semarang. Dalam pelayaran kembali ke Pontianak, ia wafat, karena kapalnya karam. Adapun Habib Muhammad Al-Habsyi, kakek buyut Habib Ali Kwitang, datang dari Hadramaut lalu bermukim di Pontianak dan mendirikan Kesultanan Hasyimiah dengan para sultan dari klan Algadri. Habib ‘Abdur Rahman ditakdirkan menemui Penciptanya sebelum sempat melihat anaknya dewasa. Beliau meninggal...