Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kisah Ulama

Jarang Ada Yang Faham, Inilah Sosok Pencetus ‘NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya’

Mbah Liem Pencetus ‘NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya’ KH Muslim Rifai Imampuro (Mbah Liem). KH Muslim Rifai Imampuro atau yang akrab dipanggil Mbah Liem tergolong kiai yang bersahaja, nyentrik, sering berpenampilan nyleneh, misal dalam menghadiri beberapa acara. Saat memyampaikan pidatonya di muka umum sering berpakaian ala tentara, memakai topi berdasi bersepatu tentara tapi sarungan. Bahkan pada saat prosesi upacara pemakaman Mbah Liem pun juga tergolong tidak seperti umumnya, saat jenazah dipikul dari rumah duka menuju makam di Joglo Perdamaian Umat Manusia sedunia di komplek pesantren diarak dengan tabuhan hadroh “sholawat Thola’al Badrun alainaa” proses pemakamanya seperti Tentara menggunakan tembakan salto yang dipimpin langsung oleh TNI/Polri hal ini dilaksanakan sesuai wasiatnya. Mbah Liem seolah menutupi indentitasnya bahkan hingga kini putra-purtinya tidak mengetahui persis tanggal lahirnya. Salah satu putra Mbah Liem yang bernama Gus Muh mengatakan Mbah Liem lahir pada tangga...

PRESIDEN ABDURRAHMAN SALEH DI BANDARA ABDURRAHMAN WAHID

PRESIDEN ABDURRAHMAN SALEH DI BANDARA ABDURRAHMAN WAHID Mbah Wali Gus Dur pernah bercerita, pada masa beliau menjadi Presiden harus mengunjungi wilayah Malang naik pesawat. Pemandu di Bandara Abdurrahman Saleh-Malang mungkin karena tergopoh-gopoh, memberi kalimat panduan dengan lantang tapi salah dan terbalik: “Presiden Abdurrahman Saleh akan segera mendarat di bandara Abdurrahman Wahid” Mbah Wali-pun hanya tertawa, dan tidak pernah marah. Beliau tertawa dan semuanya juga tertawa. Masalah berlalu. Tidak ada keinginan menganggap ini sebuah pelecehan atau pelanggaran etik, apalagi dilakukan kepada Kepala Negara. Kangen panjenengan Mbah Wali GusDur...Al Fatihah Oleh : Shuniyya Ruhama

Dua Kisah Nyata Keajaiban Pada Perayaan Maulid Nabi

Al Habib Jailani bercerita bahwa kisah yang ia sampaikan berasal dari Sayyid Muhammad al-Maliki, dan Sayyid Muhammad dari ayahandanya Sayyid Alwi al-Maliki. Cerita bermula ketika Sayyid Alwi menghadiri peringatan Maulid Nabi di Palestina. Beliau terheran-heran menyaksikan orang yang terus berdiri sejak awal pembacaan maulid. Sayyid Alwi pun memanggilnya, "Duhai tuan apa yang Anda lakukan, mengapa Anda berdiri sejak awal Maulid?” Lalu ia menjawab bahwa dulu ia pernah berjanji saat menghadiri sebuah Maulid Nabi untuk tidak berdiri hingga acara selesai, termasuk saat Mahallul Qiyam, momen di saat jamaah berdiri senrentak sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah. “Sebab menurutku itu bid’ah,” katanya. Tiba-tiba, kata orang itu kepada Sayyid Alwi, pada momen Mahallul Qiyam ia menyaksikan Rasulullah hadir dan lewat di sebelahnya lalu berujar, “Kamu tak usah berdiri kamu duduk saja di tempatmu." “Aku pun ingin berdiri namun terasa susah. Sejak itulah aku sering sakit dan bahkan ...

MBAH UMAR AL-HAFIDZ SOLO SANG WALI AUTAD

MBAH UMAR AL-HAFIDZ SOLO SANG WALI AUTAD "Ada beberapa ulama yang menjadi paku bumi tanah Jawa, mereka adalah KH. Arwani Amin Kudus, KH. Abdul Hamid Pasuruan, Habib Anis bin Alwi al-Habsyi Solo dan KH. Ahmad Umar Abdul Manan Mangkuyudan," tutur KH. Ma'shum Ahmad Lasem suatu ketika. Juga KH. Mubassyir Mundzir Bandar Kidul Kediri pernah menyatakan bahwa Mbah Umar yang seumur hidupnya selalu menjaga wudhu dan shalat berjamaah itu adalah salah seorang wali autad, yaitu tingkatan wali yang setiap masa anggotanya hanya empat orang. Mbah Umar bernama lengkap KH. Ahmad Umar Abdul Manan, lahir pada 5 Agustus 1916 M. Merupakan salah seorang tokoh ulama kharismatik dari Solo yang termasyhur sebagai seorang kiai penghafal al-Quran yang diberi keistimewaan mengetahui banyak tentang rahasia kandungan al-Quran. Riwayat nyantri Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad tersebut diantaranya di Pesantren Termas Pacitan, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Popongan Klaten dan Pesantren Krapyak...

KISAH ULAMA DAN PEMIMPIN

KISAH ULAMA DAN PEMIMPIN Kutipan ceramah Habib Umar bin Hafidz di Ponpes Al-Fachriyah Ciledug Tangerang, 14-10-2017 M. Dikisahkan ada seorang ulama bernama al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri, murid dari al-Imam asy-Syaikh Abu Bakar bin Salim. Beberapa pemimpin (sultan/raja) di jaman itu menginginkan fatwa dari ulama, dimana fatwa tersebut tidak ada dalam syari at yang mu'tamad (kuat) tetapi ada di dalam fatwa yang minoritas (sedikit). Para ulama yang bersifat wara' menolak untuk memfatwakan bagi pemimpin tersebut. Kemudian para ulama tersebut menyarankan untuk memintakan fatwa kepada pemimpin para ulama di jaman itu yaitu al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri, "Kalau beliau ijinkan, kami para ulama ikut beliau." Dan datanglah 'pemimpin' itu kepada al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri yang kebetulan juga masih ada hubungan kekerabatan keluarga dengan pemimpin itu (putri pemimpin itu istri beliau). Ketika itu al-Imam Abdurrahman bin Muhammad al-J...

RAHASIA DI BALIK KEHEBATAN METODE "UTAWI IKI IKU" ALA PESANTREN

RAHASIA DI BALIK KEHEBATAN METODE "UTAWI IKI IKU" ALA PESANTREN Oleh: KH. Muhajir Madad Salim bin Kyai Mas'udi Satu anak didik saya yang sekarang saya titipkan kepada seorang ustadz balik ke rumah. Saya tanya, "Krasan (betah) mondoknya?" “Tidak," jawabnya. “Kenapa tidak krasan?" “Karena ustadznya mengajarnya tidak pakai 'utawi iki iku', saya jadi kesulitan memahami pelajaran-pelajaran beliau." Saya tersentak. Saya merasa bersalah. Memang ustadz yang saya titipi bisa dikatakan alim, dia mutakharrij (lulusan) Rubath Tarem. Tetapi jika mengajar tidak pakai rumus 'utawi iki iku' bagi santri Jawa ya repot. Lalu saya teringat paparan tentang hal ini. Dituturkan oleh kakak saya saat menjadi wakil keluarga dalam rangka Haul ayah saya, Kiai Mas’udi. Saya ambil bagian pentingnya saja. Meskipun panjang, insyaallah paparan beliau menarik. Sebab selain menjelaskan tentang pentingnya 'utawi iki iku', juga menerangkan banyak hal yang berh...

Makan Siang Bersama Kiyai Bisri

Kyai Bisri Mustofa Pasca Gestapu, Kiyai Bisri Mustofa menjadi anggota MPRS. Pagi-pagi sekali beliau menyambangi Habib Chaidar (Penulis buku biografi Kiyai Nawawi Banten) di Lasem. “Ayo ikut aku, ‘Yik!”  “Yik”  singkatan dari  “Sayyid” , sebuatan yang lazim bagi santri Jawa untuk  dzurriyyah  Kanjeng Nabi Muhammad  Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. “Kemana?” “Pagi-pagi begini sarapan sate di Juwana enak, ‘Yik!” Siapa mau nolak traktir? “Ya aku ganti pakaian dulu”. “Nggak usah! Sarapan saja kok ganti pakaian”. Maka diangkutlah Habib Chaidar yang belum mandi dengan pakaian lusuh yang belum ganti sejak dipakai tidur semalam dengan mobil Datsun milik Kiyai Bisri. Usai sarapan, “Sekalian cari buah di Ngembal ya, ‘Yik! Sedang musim duku ini!” ‘Yik Chaidar mandah saja dibawa ke Ngembal, Kudus. “Di Sayung ada warung kopi Arab! Suwwedeep!” ‘Yik Chaidar dilarat ke Sayung, Demak. Usai ngopi hari menjelang siang. “Sekalian cari makan siang, ‘Yik!” Mobil berjalan terus ke B...

PURNAMA DI KOTA BENGAWAN

  Teronggosong.com Ia adalah salah seorang ulama Al-Quran yang shalih, wara’, dan kharismatik. Beberapa ulama thariqah juga meyakini pengasuh pesantren terkemuka ini adalah waliyullah. Di era tahun 1970 hingga 1980an, di Jawa ada beberapa ulama yang dikenal sebagai ahlul Quran, pemegang otoritas pengajaran Al-Quran yang mu’tabar. Selain mengajarkan pembacaan dan penghafalan Al-Quran yang memiliki sanad yang musalsal, diakui kebersambungannya, hingga Rasulullah SAW, mereka juga diyakini mendapat anugerah khusus dari Allah berupa pengetahuan tentang sebagian asrar Al-Quran, rahasia spiritual Al-Quran. Di antara ulama ahlul Quran yang termasyhur pada kurun tersebut adalah K.H. Ahmad Umar Abdul Mannan, pengasuh Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, Jawa Tengah. Kedalaman ilmu murid kesayangan K.H.R. Muhammad Moenawwir Krapyak,Yogyakarta, itu diakui oleh ulama pesantren pada masanya dan pemerintah. Terbukti dari penunjukannya sebagai juri MTQ Internasional tahun 1953 yang digelar...