Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label toleransi

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 2)

Santrionline.net ~ Ramadhan kemarin, ketika saya diundang oleh Kick Andy, dibuatkan sebuah acara bertajuk ‘Dakwah Ramah’ dengan merangkul anak-anak jalanan. Perasaan saya dan istri serta beberapa penonton di ruangan itu, melihat tidak ada yang salah dengan pernyataan saya. Namun ada perasaan tidak enak di hati saya. Melihat yang sudah-sudah sekelas Ketua Umum PBNU saja (Kyai Said Aqil) dibully terus-terusan, tapi beliau bandel. Hingga saya pernah bertanya,  “Kyai kok tenang-tenang saja? ” Jawab Kyai Said enteng,  “Lha wong HP saya jadul.”  Jadi selama ini beliau tidak bermedsos seperti twitter, facebook ataupun lainnya. Giliran Gus Mus yang saya tanya,  “Abah tenang-tenang saja?”  Jawab Gus Mus,  “Lha iya, kita mikirnya Allah saja, kenapa mikir manusia?”  Beliau kalau ke saya sangat luwes. Saya juga pernah bertanya kepada Mbah Mun (KH. Maimoen Zubair), karena sekelas beliau ada saja yang menyerang. Namun jawab Mbah Mun, “Saya itu senang aja dikomentar...

Cara Para Wali Menanam Islam di Tanah Jawa

Santrionline.net ~ Cara mengajar para wali jaman dahulu, menyebut Allah agar tidak terlalu nampak menyebutnya dengan Gusti Pengeran, Rasulullah dengan Kanjeng Nabi, Shalat dengan Sembahyang, Mushalla dengan Langgar, Syaikh atau Ustadz dengan Kyai, Tilmidzun Muridun dnegan Santri, Kalimat Syahadat dengan Kalimosodo, Syahadatain dengan Sekaten. Cara para wali menasihati masyarakat tidak dengan (bahasa) Arab, tapi dengan isyarat, asal bisa diterima. Ingin jadi orang baik, cukup dinasihati, “Jangan lupa Jempol ya,” begitu saja. Jempol itu bagus, tidak sempurna jika tidak ada Jenthik (kelingking). Jenthik itu maknanya jangan otak-atik barang orang lain, jangan suka mencuri. Jadi para wali jaman dulu tidak perlu berdalil “As-sariqu was-sariqatu faqtha’u aidiyahuma” atau dengan dalil hadits “Lau anna Fathimata bintiy saraqat laqatha’tu yadaha”. Terus Jari Manis, jangan bermanis-manis wajah. Jadi Penunggul, jadilah orang yang unggul tapi tidak sombong. Jadi Penuduh, jadilah yang bisa memberi...

As'ad Said Ali Toleransi Model Barat Tidak Cocok untuk Indonesia

Pacitan, Santrionline Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH As'ad Said Ali hadir dalam Apel Kesetiaan NKRI yang digelar oleh PWNU Jawa Timur di kawasan Pantai Pancer Door Pacitan, Ahad (8/1). Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015 mengatakan bahwa toleransi model barat tidak cocok di terapkan di NKRI. Mengapa demikian, karena toleransi tersebut tidak sejalan dengan sikap toleransi yang dimiliki NU. "Toleransi model barat mengatakan semuanya bebas. Semua agama bebas. Termasuk menistakan agama orang lain, termasuk juga menghujat Allah. Itu toleransi model barat. Tapi kita beda, kita Pancasila tidak seperti itu. Kita adalah Bhinneka Tunggal Ika," katanya dihadapan 10 ribu kader NU Se-Jawa Timur yang mengikuti Apel Negara, kata mantan Wakil Kepala BIN itu, harus hadir membikin aturan atau undang-undang yang kuat untuk mengatur rambu-rambu lalu lintas interaksi antar umat beragama, dan antar suku di Indonesia. "Negara yang namanya Pancasila sekarang ibarat r...