Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Humor

EDISI RINDU GUS DUR

Abdurrahman Wahid  ( Gus Dur ) adalaah salah satu cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama yaitu Hadrostus Syech Hasyim As'ari dan merupakan Rais Akbar Nahdlatul Ulama. Gus Dur sebagai mantan presiden Republik Indonesia Ke 4, sangat disukai masyarakat dengan anehdot dan humor terutama dalam kalangan santri Indonesia dan dunia. Humor gusdur mengalihkan setiap kemapanan makna, sebuah kebenaran yang harus ditanggapi secara serius, menuju celah-celah, kontradiksi, dan ironi hingga membuatnya menjadi parodi yang selalu terlihat getir dan menertawai perilaku sehari-hari. ketika kita renungkan, humor Gus Dur jadi "daya tarik" tersendiri yang mencerminkan keuniversalan makna dan kedangkalan nilai kemanusiaan kita. lontaran "sarkub" misalnya, menjadi sebuah gugatan, yang lebih dari sekedar protes yaitu pesan tentang keabsurdan kehidupan dunia ini. terutama dunia kiai dan kepesantrenan.  Seorang Kai yang baik menurut Gud Dur , adalah yang bersedia melayani. bersedia menjadi pela...

Janganlah suka Membid'ahkan dan Mengkafirkan orang

Pada suatu hari Abu Wawan yang hendak pergi melanjutkan studi S2 nya di kampus ternama di Ibu Kota. di tengah jalan Abu wawan berpapasan dengan Kang Dollah yang hendak pergi menghadiri Maulid Nabi di Kampung sebelah , Kang Dollah adalah Pemimpin majelis ta'lim dan Guru ngaji anak-anak di sebuah surau (mushola) kecil di Kampung yang kebetulan satu kampung dengan Abu Wawan, Masa Mudanya Kang Dollah bisa dikatakan dihabiskan di pesantren...belasan tahun Kang Dollah menimba ilmu di pesantren, dan sekarang Kang Dollah mengabdi kepada masyarakat dengan ilmunya yang telah ia dapat sewaktu di pesantren .. Kang Dollah menyapa lebih duluan kepaada Abu Wawan.... Kang Dollah : Assalamu'alaikum yaa Abu.... Abu Wawan : Wa'alaikumsalam Kang. Kang Dollah : Mau kemana mas Abu, koq barang bawaannya banyak banget..??..mau saya bantuin?? Abu Wawan : Syukron..syukroon..syukron , ana Mau lanjutin studi S2 di Kota, Alhamdulilah kang, ana kemarin lolos seleksi dan diterima di kampus ternama di ...

Apa itu " GHOSOB "

Istilah Ghosob berasal dari fiil madly yaitu kata ghoshoba, yaghshibu, ghoshbun yang artinya merampas, mengambil dengan paksa/kekerasan (Kamus At-Taufiq, 2004, 455). Kebiasaan ghosob ini sering dilakukan oleh para santri, meskipun makna ghosob berkaitan dengan kata kekerasan serta rampasan yang terkesan anarkis, akan tetapi dalam prakteknya tidaklah seperti yang di bayangkan. Karena biasanya para santri  melakukan hal terebut, berupa ghosob  ringan yaitu mengambil atau memakai sandal santri lain tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada  pemiliknya, sandal merupakan barang terlaris yang menjadi sasaran praktek ghosob para santri. Imbasnya sandal santripun akan susah di deteksi atau lebih parah lagi tidak akan kembali , tidak kembalinya bukanlah hilang akan tetapi keberadaan bisa jadi berada di tempat lain, namun kadang kala sandal yang telah lama hilang, ada kemungkinan kembali lagi,  jika masih beruntung sandal tersebut masih utuh dengan pasangannya, akan tetapi kad...

Keliru Mendaulat Imam

Suatu ketika, Gus Imam Masyhadi, Nganjuk, Jawa Timur sedang berada di salah satu masjid di daerahnya. Datang serombongan lelaki dari luar daerah. Nada-nadanya mereka sengaja menghampiri masjid itu untuk menunaikan ibadah shalat secara jamaah. Namun mereka terlambat, tidak mendapati jamaah bersama imam dan warga sekitar menjalankan jamaah. Usai rombongan wudlu dan bersuci sebagaimana mestinya, mereka berkumpul di dalam masjid. Semua rombongan enggan menjadi imam. Gus Imam yang hafal Al-Qur'an dan dosen disalah satu perguruan tinggi, kebetulan sedang berpakaian ala preman. Disamping mereka tak ada yang mengenal, secara lahiriyah, pakaian GusImam tidak mencerminkan kekiaian. Di tengah riuh keributan, datang lelaki dengan berpakaian rapi ala kiai, berbusana muslim dan bersurban. Sebut saja namanya Fulan. Tanpa berpikir panjang, para lelaki itu justru lebih memilih mendaulat Fulan yang sebelumnya belum pernah mereka kenal sama sekali. Pilihan mereka disambut antusias oleh Fulan ini. Bak...

Ah, Ih, Uh Bacaanya Intaha

Dengan metode sorogan, satu persatu santri membaca kitab fiqih, Fathul Mu'in karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibary di hadapan kiai. Hampir semua santri lancar bacanya. Tiba giliran Otong, kiai mengamati betul pergerakan bibir santri kesayangannya ini.  "Kenapa berhenti  Tong? " tanya Kiai. "Anu....ini kiai ada lafal اهے (ditulis dengan huruf alif dan ha), saya harus baca apa ya kiai?“ tanya Otong sambil gemetar "Coba kamu baca dulu Tong!" perintah Kiai. Otong pun membacanya dengan bacaan 'IH' Kiai mengetuk meja dengan kayu, 'Tok'. Tanda bacaan Otong keliru. Otong membaca lagi, 'AH'. Suara tok kembali terdengar. Otong coba lagi dengan bacaan lain,  'UH'. Terdengar lagi suara tok. Akhirnya Otong mencoba dengan bacaan 'AH IH UH' "Intaha (انتهى)  Tong," jelas Kiai Kampung. Otong disuruh mundur oleh kiai, dan itu menandakan ia harus mengulangi bacaannya besuk. (NU.or.id/Arifan)

Gus Dur dan Penggabungan Tiga Tumbuhan

Suatu kali Gus Dur ngobrol serius dengan salah satu anaknya. Di sudut perpustakaan pribadinya itu, Gus Dur mendengarkan curhat anaknya yang ingin mengikuti Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR). “Memangnya apa yang bisa kamu sumbangkan untuk LKIR sekolahmu?” Tanya Gus Dur. “Sebuah penemuan dari hasil penelitian sendiri.” “Apa itu?” Gus Dur mengernyitkan dahi. “Penggabungan (stek) tiga jenis tumbuhan yang sangat berlainan spesiesnya. Dan ternyata berhasil.” “Wah, tumbuhan apa aja itu?” “Kelapa, singkong, dan tebu.” Gus Dur terdiam. Ada tanda-tanda tak percaya di wajahnya. “Lalu apa yang terjadi dengan ketiga tumbuhan itu?” “Jadi  gethuk ,” celoteh anaknya. (nu.or.id/arifan)

Akibat Salah bangku Pesawat

Pesawat Solo ke Jakarta bersiap akan take-off dengan membawa penumpang arus balik, tapi tertunda gara-gara Udin yang baru pertama kali naik pesawat dengan tiket ekonomi, tapi ngotot ingin duduk di kelas bisnis. Agus yang pemilik kursi bisinis meminta kepada Udin: “Maaf pak… Ini kursi saya.” “Panjenengan siapa…?” Tanya balik Udin Agus: “Saya penumpang yang duduk di sini Pak!”  “Penumpang..? Saya juga, sama-sama bayar..! Sama-sama penumpang, kenapa kau mau ngatur-ngatur saya?” ujar Udin dengan mengelak Tak mau ribut, lalu Agus lapor ke pramugari. Pramugari : “Maaf Pak Udin..dari tiket bapak mesti nya Bapak duduk di belakang.” “Anda siapa?” Tanya balik Udin Pramugari : “Saya pramugari..”  “Pramugari itu apa?” Tanya lagi Udin Pramugari : “Pramugari itu yang melayani penumpang.” “Walah  Jebule … pelayan  toh !!! Saya kira siapa tadi, udah lah kau urus aja kerjaanmu saja, nggak usah ngatur-ngatur saya. Pokoknya saya tetap duduk di sini. Anda mau apa…??!!” Tiga menit kemudi...

Kok Ceker Ayam Turunkan Kolestrol?

Gus Dur punya satu kebiasaan unik, setiap dia datang ke Kota Solo, tak lupa untuk mampir ke warung makan Gudeg Ceker Ayam di daerah Margoyudan.<> “Beliau belum  kerso  tidur dan istirahat kalau belum  dahar  ceker ayam Margoyudan dan  ngunjuk  wedang jahe-nya Mbah Wir yang biasanya dibawakan Mas Didik Gunawan, suaminya Bu Faridah Budi Astuti,” kata Ketua Gusdurian Solo, Hussein Syifa berkisah. Pernah suatu ketika, dalam kunjungannya ke tempat tersebut, saat makanan sudah tersaji, Gus Dur mempersilakan yang lain untuk segera menikmati kuliner khas Solo itu. “Monggo cekeripun  didahar . Ceker ini bisa menurunkan kolesterol lho," kata Gus Dur. "Mosok enggih Gus, ceker kok menurunkan kolesterol?" tanya Hussein. "Maksudnya, menurunkan kolesterol dari perut ke kaki. Monggo,  dirahapi  (dinikmati) setelah itu diratapi,” jawab Gus Dur, sembari kemudian menggigit  ceker  kesukaannya itu (Nu.or.id/Arifan)

Bukan Radio Islami

Bulan Ramadhan, banyak sekali orang Indonesia melakukan perjalanan umrah ke tanah suci. Suatu ketika ada seseorang baru pulang dari ibadah umrah, sebut saja Udin yang membawa oleh-oleh Radio dari Arab Saudi.  Sampai di rumah dia marah-marah. “Lho  Mas , kenapa ngamuk-ngamuk (marah-marah), pakai banting radio juga?” tanya teman Udin. Dengan nada ketus dan geram, Udin pun berujar, “Pembohong, gombal, dusta!!!” “Kenapa Din?” Temannya langsung terpaku dan kebingungan. “Radio ini di Mekah tiap hari ngaji Al-Qur’an terus. Tapi di sini, isinya lagu, koplo, dangdut, band  tok . Radio begini kok dibilang radio Islami.” “ Sampean  (Anda) tahu ini radio Islami dari mana?” Tanya teman Udin “Lha…, itu bacaannya ‘ all-transistor ’, pakai ’ Al’ .” Teman Si Udin yang cerdas langsung ketawa terkekeh. (Nu.or.id/arifan)

Dikira Terorist ternyata 'Telorist'

Ujang bertanya sama Otong. "Kang tahu tidak, kemarin seorang pemuda asal Brebes ditangkap polisi ketika berjalan di dekat pusat perbelanjaan dan membawa tas bermuatan yang cukup berat?" tanya Ujang. "Tidak, Kang. Kok di TV dan medsos enggak ada yang memberitakan tentang itu? Mungkin itu hoax." "Tapi..." lanjut Ujang sambil menampakan mimik wajah serus. "Tapi apa, Kang?" tanya Otong penasaran. "Tapi, setelah memeriksa ketat isi tas, polisi mendapatkan barang yang bukan ia curigai." "Emang isinya apa?" "Telor asin, yang akan didrop ke warung-warung. Kini pemuda tersebut ditetapkan sebagai 'teloris'," jelas Ujang sambil ketawa.  (Ahmad Rosyidi) Tejo dan Ujang suatu kali sedang ngobrol serius tentang bom di Sarinah di serambi pesantren. Tiba-tiba Ujang bertanya sama Tejo. "Kang tahu tidak, kemarin seorang pemuda asal Brebes ditangkap polisi ketika berjalan di dekat pusat perbelanjaan dan membawa tas bermuata...

Salah Ambil Toples

Seorang santri, sebut saja namanya Tholib, dipanggil untuk menghadap kiainya. Karena mungkin merasa sungkan jika sowan sendirian, akhirnya Tholib mengajak seorang santri senior. Sesampainya di kediaman pengasuh, Tholib disuruh kiayinya membuatkan teh.<> Kiai: " Kang, gaweo dewe teh nang dapur mburi !" (Kang, silahkan membikin teh sendiri di dapur belakang). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Setelah teh siap dihidangkan, Tholib membawanya ke ruang tamu. Merasa ada yang kurang di meja lantaran hanya ada beberapa gelas berisi teh, lantas sang Kiai menyuruh Tholib untuk mengambil kue di dapur juga. Kiai: " Kang, nek ono jajanane, jukuken toples nang dapur! " (Kang, kalau ada kue, ambil saja toples di dapur). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Begitu sampai di dapur. Tholib menjumpai sebuah toples di dapur dan langsung mengambilnya, tanpa memastikan isi yang ada di dalamnya. Sembari meletakan toples di meja, tanpa basa-basi Tholib langsung membuk...

Barokah Tangan Pak Kiai

ilsutrasi Seorang santri di suatu pondok pesantren belajar mengaji Al-Qur’an kepada pak kiai. Saat itu baru surat Al-Fatihah yang dibacanya.<> Ayat 1-5 dibacanya dengan lancar tanpa kendala. Ketika sampai pada ayat ke-6 yaitu kalimat ‘ Ihdinassyiratal Mustaqim ,’ santri salah melafalkan. Saat itu santri mengucap ‘ Ihdinassyiratal Mustaghim. ’  Pak kiai pun membetulkan dengan lafal yang benar yaitu  mustaqim , pakai huruf ‘qaf’ bukan ‘ghain’ tegas kiai. Tetapi tetap saja santri salah melafalkan. Yang seharusnya dibaca ‘qaf’ malah di baca ‘ghain’ Hingga beberapa kali santri itu salah melafalkan sampai pak kiai pun geram dan naik darah. Ahirnya pak kiai pun menjewer telinga santri. Santri pun sontak mengucap saqit, saqit, saqit. Akhirnya santri pun dapat melafalkan kalimat ‘Ihdinassyiratal Mustaqim’ dengan baik dan benar sampai ayat ke-7. -  Muhlisin , Santri asal Pati Jawa tengah, tinggal di Yogyakarta (Nu.or.id/arifan)

Tidak Punya Laut, Tapi Puya Angkatan Laut

Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah pemimpin bangsa yang menggagas lahirnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (dulu Departemen Kelautan dan Perikanan). Alasan Gus Dur sederhana, dua pertiga wilayah RI adalah laut dan dalam sejarah, bangsa Nusantara adalah bangsa maritim.  Benteng utama pertahanan laut Indonesia dilakukan oleh TNI AL dengan Marinir sebagai pasukan elitnya. Suatu ketika dalam suasana santai, Presiden Gus Dur berbincang ringan dengan ajudannya yang lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL).  Karena dikenal sebagai sosok egaliter, Gus Dur tak sungkan berbincang dengan siapapun. Alasan itulah yang membuat orang-orang dekatnya juga tak segan meski Gus Dur adalah seorang Presiden. “Gus, salah satu negara di Amerika Latin, yaitu Paraguay nggak punya laut, kok punya Angkatan Laut?” tanya Ajudan. “Sama seperti saya, punya Ajudan, tetapi bukan kaya Presiden. Lah, kamu manggil saya Gus,” ujar Gus Dur sambil terkekeh dalam hati. “Siap Pak Presiden!” sontak Ajudan lan...

Bisakah Merokok Di Surga?

Usai ngaji sorogan, seperti biasanya Otong dan Udin langsung menuju ke kantin pesantren untuk ngobrol yang ringan-ringan sampai berat. Otong yang sudah kecanduan rokok melemparkan pertanyaan kepada sohibnya itu. "Din, di surga ada rokok tidak ya?" Tanya Otong. "Di surga kan keinginan pasti dikabulkan, jadi ada, Tong." "AlhamduliLlah, lega bener hati ini rasanya denger jawaban ente, Din." "Tapi....Tong," kata Udin dengan mimik serius. "Kenapa Din?" "Sayang, di surga tidak ada api Tong, jadi kalau mau nyalain rokok, ya jalan dikit ke neraka," celetuk Udin. (nu.or.id/Arifan)

Sopir Yang Bergelar SH, SE, ST

Pada suatu kesempatan di awal tahun 2000, Kang Kusnin diminta membantu panitia untuk distribusi surat undangan. Tepatnya pada acara Haul Pesantren Mambaul Hikam, Mantenan, Udanawu, Blitar. Kebetulan saat itu Kang Kusnin masuk divisi kehumasan, sehingga pendistribusian undangan menjadi salah satu tugasnya. Awalnya tidak ada yang  nganjel . Hampir 2000 surat undangan tertata dengan baik plus  by name and by addres. Setelah surat dibagi per zona, Kang Kusnin merasa aneh dan sedikit bingung lantaran ada tiga undangan dengan nama sama; NUR. Cuma bagian akhir ada tambahan SH, SE dan ST.  Kang Kusnin bersama teman-temannya berpikir itu singkatan gelar sarjana seperti kebanyakan undangan lain. Misal SH singkatan (Sarjana Hukum), SE (Sarjana Ekonomi) dan ST (Sarjana Teknik). Namun ternyata singkatan yang dimaksud tidak demikian. Hal itu terungkap ketika Kang Kusnin menanyakan langsung kepada ketua panitia Gus Had. “Gus, nama Nur Sarjana Teknik dari Desa Bakung itu yang mana?’’...

Kyai Sepuh dan Radio

Santrionline - Suemdang,  Adalah seorang kyai sepuh yang mengharamkan radio karena dianggap banyak mudaratnya. Semua kyai segan kepadanya sehingga tak ada seorang pun yang berani menentang. Membantah langsung dianggap bukan cara yang bijak. Maka Kyai Bisri Mustofa membuat sebuah rekayasa. Satu hari kyai sepuh itu diundang makan-makan ke rumahnya. Kyai Bisri sengaja memilih waktu malam Jumat sesudah maghrib karena sebuah stasiun radio di Surabaya menyiarkan acara pembacaan Alquran. Selesai makan, Kyai Bisri menghidupkan radio dari dalam kamar. Mendengar ada orang membaca Alquran, sang kyai sepuh bertanya, "Siapa yang ngaji itu? Suaranya kok enak sekali." Sambil menahan geli, Kyai Bisri menggotong radio keluar dari kamar sambil menimpali, "Ini lo, Mbah, yang ngaji." Sambil terheran-heran sang kyai sepuh itu berujar, "Lo, di radio ada ngajinya juga toh?" Sumber:  http://humor-santri.blogspot.co.id/ (arifan)

Membahasa arab kan Mahar

Santrionline - Suemdang,  Dalam sebuah halaqah yang dihadiri oleh kyai-kyai besar, Almarhum Nurcholish Madjid melontarkan kritikan tajam, “Bertahun-tahun bahasa Arab diajarkan di pesantren”, katanya, “tapi sedikit sekali, bahkan diantara kyai-kyainya, yang mempu mempergunakan bahasa Arab secara aktif. Pasti ada yang salah dalam metode pengajarannya!” Kyai Badri Masduqi Probolinggo Allah yarham –lahumal faatihah– langsung mengacungkan jari, “Pak Doktorandus!” beliau menyergah tanpa menunggu dipersilahkan oleh moderator, “kyai-kyai dan santri-santri pesantren belajar bahasa Arab itu keperluannya untuk berkomunikasi dengan tokoh-tokoh Islam seperti Imam Syafi’i, Imam Ghozali dan lain-lain. Untuk memahami kitab-kitab karya mereka. Jadi tidak perlu bisa ngomong pakai bahasa Arab seperti Sampiyan. Buat apa? Lha wong tetangganya orang Jawa semua!” Rupanya benar yang dikatakan Kyai Badri Masduqi, kebanyakan kyai pesantren mempelajari bahasa Arab hanya sebatas untuk memahami kitab-kitab yan...

Humor Ringan dan Santai: Santri Diskusi Isim dan FI'il

Santrionline - Sumedang,  Orisinil humor dari Ponpes Roudlotut Tholibin, Sirau Kemranjen Banyumas. Untuk menjaga kode etik perhumoran, maka nama tokoh diganti dengan warga HOKI, dan ditambah bumbu agar lebih sedap. Selamat menikmati! Di dapur pondok, terjadi diskusi nahwu antara Kang Subhan Bae Lah (KSBL) melawan Santri Sitinggil (SS). KSBL : “Kang Santri Sitinggil, ismun itu kalimah apa?” SS : “Kalimah isim.” KSBL : “Pinter Sampeyan. Nilai seratus. Lha, kalau fi’lun itu kalimah apa?” SS : “Kalimah fi’il.” KSBL : “Salah. Nilai nol.” SS : ”Saya ngaji jurmiyah, khatam 15 kali, dari dulu sampai sekarang, fi’lun ya kalimah fi’il.” KSBL : “Sudah dibilang salah, ya tetap salah. Fi’lun itu juga kalimah isim, lha wong dibelakangnya ada tanwin. Ingat kata Imam Dawud As-Shonhaji, “Fal ismu yu’rofu bilkhofdli wattanwiini wadukhuulil alifi wallaami wakhuruufil khofdli. Hehehe..” SS :”Asem kowe. Tek jewer kupingmu. Ngerjani wong tuwa.” KSBL : “Hahaha… 1-0, untuk kemenangan KSBL. Ada orang tua k...

Terlalu Panjang !!!

Santrionline - Sumedang, Di sebuah desa santri, ada lurah baru yang kebetulan “kurang santri”. Pak Lurah nggak pernah ngaji atau mondok. Soal agama ia pelajari sendiri dari buku-buku terjemahan. Dalam sebuah acara pengajian, Pak Lurah memberi kata sambutan, “Bapak-bapak, Ibu-ibu, setiap amal harus kita kerjakan dengan ikhlas. Seperti doa yang selalu kita baca setiap shalat: INNAA SHOLATIWAA… NUSUKIWAAA….” Hadirin serentak tertawa, bertepuk tangan dan bersuit-suit. Dari barisan belakang ada yang teriak, “Iftitah bahasa Jepang!” Tapi teriakan itu tenggelam ditengah riuh-rendah sorakan. Pak Lurah tak mendengarnya, atau tak mengerti maksudnya. Ia teruskan saja pidatonya, hingga sampai ke dalil andalan yang telah disiapkannya, “Kita harus ingat Firman Allah: INNAA KHOLAQNAAKUM MIN DZAKAAAARIN WA UNTSAA…” Kang Parji, yang belum lama boyong dari pondok, tidak tahan mendengarnya dan langsung berdiri terus maju kedepan, “Interupsi, Pak Lurah!” teriaknya keras-keras, “itu tadi dzakarnya kepanjan...

Misteri Malam Jum'at di Dapur Pondok

Santrionline - Sumedang,  Ketika itu malam jum'at kliwon aku mencari api ke dapur pondok untuk sekedar menyulut rokok. Karena tidak ada korek aku mencari bara di bekas pengliwetan, kudapati bara api tapi kecil terpaksa harus njengking untuk meniup-niup agar bisa untuk menyulut rokok kreteku. Saat sedang njengking-njengkingnya ku dengar langkah kaki menghampiriku semakin dekat semakin jelas ternyata yang muncul adalah Kang Thoha te manku sendiri. Sambil membawa kendil berisi beras pasti dia juga bawa korek untuk masak. Tanpa basa-basi kusapa kang Thoha dengan niat mau pinjam korek "KHANG PHINJHAM KHORHEKNYHA" Seperti tak pernah kenal kang Thoha menatapku dengan ekspresi spontan terkejut sampai-sampai kendil yang berisi beras terjatuh dan korat-karit lalu kang Thoha lari terbirit-birit, aku berfikir pasti ada yang nggak wajar di dapur ini belum sempat menyimpulkan aku segera teringat kalau malam ini adalah Malam Jum'at Kliwon, Biasanya aku tak pernah ngefek dengan hal m...