Langsung ke konten utama

Humor Ringan dan Santai: Santri Diskusi Isim dan FI'il

Santrionline - Sumedang, 
Orisinil humor dari Ponpes Roudlotut Tholibin, Sirau Kemranjen Banyumas. Untuk menjaga kode etik perhumoran, maka nama tokoh diganti dengan warga HOKI, dan ditambah bumbu agar lebih sedap. Selamat menikmati!
Di dapur pondok, terjadi diskusi nahwu antara Kang Subhan Bae Lah (KSBL) melawan Santri Sitinggil (SS).
KSBL : “Kang Santri Sitinggil, ismun itu kalimah apa?”
SS : “Kalimah isim.”
KSBL : “Pinter Sampeyan. Nilai seratus. Lha, kalau fi’lun itu kalimah apa?”
SS : “Kalimah fi’il.”
KSBL : “Salah. Nilai nol.”
SS : ”Saya ngaji jurmiyah, khatam 15 kali, dari dulu sampai sekarang, fi’lun ya kalimah fi’il.”
KSBL : “Sudah dibilang salah, ya tetap salah. Fi’lun itu juga kalimah isim, lha wong dibelakangnya ada tanwin. Ingat kata Imam Dawud As-Shonhaji, “Fal ismu yu’rofu bilkhofdli wattanwiini wadukhuulil alifi wallaami wakhuruufil khofdli. Hehehe..”
SS :”Asem kowe. Tek jewer kupingmu. Ngerjani wong tuwa.”
KSBL : “Hahaha… 1-0, untuk kemenangan KSBL. Ada orang tua kena tipu. Xixixixii…“
Setelah mneyedot rokok sufi yang terbuat dari mbako padud serta nyruput kopi keron bin intip, akhirnya SS mengajukan pertanyaan kepada KSBL. Beginilah dialog mereka:
SS :”KSBL, lafal Jakarta itu isim apa fi’il?”
KSBL :”Lha, pertanyaan seperti itu kok ditanyakan. Jelas isim.”
SS : ”Salah banget. Yang betul fi’il”
KSBL : “Kang Santri Sitinggil sampeyan khatam jurmiyah 15 kali, lha kok menurut sampeyan Jakarta itu kalimah fi’il, padahal jelas, Jakarta itu nama kota, itu isim ‘alam, bagian dari isim ma’rifat. Ingat kata Imam Syarofuddin Yahya Al-Imrithi: “Tsaanil ma’arifis syahiiru bil ‘alam # Kaja’farin wamakkata wakalharom.”
SS : “Dengarkan saya. Jakaro, jakaroo, jakaruu, jakarot, jakarotaa, jakarna, Jakarta…….. Nah kan. Jakarta itu fiil madli mabni ma’lum. Xixixixi.
KSBL :”Hahaha… Wong tua ana-ana bae (orang tua, ada-ada saja). Okelah, kita impas. 1-1. Join rokonya dong Kang.”
SS :”Sak sedotan ya. Hahaha… E, finalnya kapan ini?”
Semoga, Anda terhibur. The End.

(arifan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Salah Ambil Toples

Seorang santri, sebut saja namanya Tholib, dipanggil untuk menghadap kiainya. Karena mungkin merasa sungkan jika sowan sendirian, akhirnya Tholib mengajak seorang santri senior. Sesampainya di kediaman pengasuh, Tholib disuruh kiayinya membuatkan teh.<> Kiai: " Kang, gaweo dewe teh nang dapur mburi !" (Kang, silahkan membikin teh sendiri di dapur belakang). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Setelah teh siap dihidangkan, Tholib membawanya ke ruang tamu. Merasa ada yang kurang di meja lantaran hanya ada beberapa gelas berisi teh, lantas sang Kiai menyuruh Tholib untuk mengambil kue di dapur juga. Kiai: " Kang, nek ono jajanane, jukuken toples nang dapur! " (Kang, kalau ada kue, ambil saja toples di dapur). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Begitu sampai di dapur. Tholib menjumpai sebuah toples di dapur dan langsung mengambilnya, tanpa memastikan isi yang ada di dalamnya. Sembari meletakan toples di meja, tanpa basa-basi Tholib langsung membuk...