Langsung ke konten utama

Postingan

Sikapi Aksi 4 November, PWNU Jabar Imbau Nahdlyin Baca "Qunut Nazilah"

Ketua Tanfidiziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, KH Hasan Nuri Hidayatullah imbau warga Nahdlyin untuk membaca "Qunut Nazilah" selepas shalat dalam menyikapi aksi 4 November yang dilakukan berbagai kelompok Muslim di Indonesia. Baik perorangan maupun berjamaah, Ketua PWNU yang terpilih dari Konferwil NU Jabar di Garut beberapa waktu lalu itu bisa dilaksanakan di tempat masing-masing. "Kita warga NU Jabar harus patuh pada maklumat resmi PBNU. Soal aksi 4 November kita demonya kepada Allah SWT saja. Membaca Qunut Nazilah, memohon kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia khususnya umat Islam diberikan kekuatan dalam menghadapi cobaan kecil maupun besar, sekaligus mendoakan agar Negara Republik Indonesia menjadi negara yang diridlai Allah SWT serta terjaga persatuan dan kesatuan Bangsanya," kata KH Hasan Nuri, Kamis (3/11/2016). Menurut Kiai Muda Kelahiran 1978 Banyuwangi Jawa Timur yang "mukim" Karawang Jawa Barat ini perlu sikap bijak da...

Guru Mulia Karena Karya

Judul di atas merupakan tema Hari Guru Nasional (HGN) 2016. Jika diperhatikan, frase tersebut di atas mengandung 2 variabel, yaitu : pertama, Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), dan kedua, hasil karya GTK. Mari kita ulas kedua hal tersebut satu per satu dikaitkan dengan realitas yang terjadi di Indonesia. Sebagaimana diketahui bersama bahwa beberapa survey menunjukkan kualitas pendidikan Indonesia berada jauh di bawah rata-rata tingkat pendidikan dunia, bahkan di jajaran negara-negara ASEAN-pun peringkatnya tidak cukup menggembirakan bila dibandingkan Thailand, Brunei, Malaysia, apalagi Singapore. Hal ini menunjukkan bahwa ada 3 komponen, yaitu: GTK, sistem pendidikan, dan fasilitas pendidikan yang dapat dipastikan tidak berkualitas baik, sehingga luarannya (learning outcomes) menjadi bermutu rendah. Mengapa GTK Indonesia tidak berkualitas? Pertama, pola rekrutmen GTK yang tidak mengedepankan pada standar kompetensi keilmuan, pedagogik, dan perilaku serta moral yang ketat. Hal ini dise...

Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan

Indonesia dikenal sebagai negeri agraris, gemah ripah loh jinawi. Namun sayangnya hal itu hanya pada teks, belum menjadi fakta. Organisasi kemanusiaan Save the Children, bekerja sama dengan UNICEF pada akhir 2009 melakukan penelitian dan menyimpulkan sekitar 6 persen dari 500 ribu anak yang berada dalam pengasuhan rumah yatim piatu, benar-benar yatim piatu. Nasib 94 persen sisanya bisa dikatakan mak jelas (tak jelas). Pada 2013, Menteri Koordinator Perekonomian di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Hatta Rajasa, menyatakan jumlah anak yatim di Indonesia tercatat mencapai 3,2 juta. Jumlah terbanyak berada di Nusa Tenggara Timur, 492.519 anak dan Papua sejumlah 399.519 anak. Salah satu akhlak dan moralitas orang-orang mulia ialah memiliki kasih sayang dan berbuat baik pada anak yatim. Dan perilaku tersebut, memiliki pahala setara dengan jihad. Rasulullah SAW yang menurut santri senior, Gus Mus, bukan pencaci, bukan pencela, dan bukan orang kasar, bersabda: "Barang siapa yang men...

Polisi Sudah Bertindak Dalam Kasus Ahok dan Inilah Yang Dilakukan

Santri Online - Jakarta, Dugaan penidtaan agama oleh Ahok sudah menjadi bola panas yang ditakutkan akan menjadi awal ketidak stabilan keamanan di Indonesia, dan yang kita ketahui seakan akan kasus ini dibiarkan bahkan ada berita miring dari para provokator kalau ahok dilindungi oleh yang berenang. Jadi bagaimana kenyataannya? Berikut adalah pernyataan dari Bapak Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Mata Najwa, semoga dengan adanya penjelasan dari Beliau dapat menghilangkan prasangka buruk kita terhadap pemerintah, karena komitment sdari Pemerintah sudah jelas yaitu bertindak sesuai Undang Undang yang berlaku. Cuplikan Mata Najwa Kemarin Pertanyaan (Oleh Najwa Shab) : Sejauh mana proses pemeriksaan terhadap basuki cahya purnama ? Pak Kapolri (Jenderal Tito Karnavian) : Jumlah laporan kepada polisi ada sebelas. Polisi atau penyidik bertindak selalu berdasarkan LP. laporan polisi ada sebelas dari tanggal enam sampai dua puluh satu Oktober. Begitu terjadi peristiwa itu laporan laporan ini s...

Tiga Hal Ini Perlu Dimiliki Generasi Muda

KH Asep Saifuddin Chalim, dianggap banyak orang berhasil mengelola lembaga pendidikan yakni Pondok Pesantren Amanatul Ummah dan Institut KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto. Selain itu ia juga dinilai sukses menahkodai badan otonom, yakni Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu). Ia memiliki kepedulian besar terhadap perkembangan generasi muda. Dalam perbincangan dengan NU Online di Pesantren Amanatul Ummah pada 29 Oktober 2016 lalu, sesaat setelah dikukuhkan kembali sebagai Ketua Umum Pergunu 2016-2021, Kiai Asep mengatakan generasi muda harus memiliki tiga hal. “Generasi muda itu harus bertakwa, berilmu, dan berkiprah. Kalau generasi muda tanpa itu ya tidak punya power,” kata Kiai Asep. Menurut putra bungsu ‘komunikator kunci’ kelahiran NU KH Abdul Chalim itu, dengan berilmu, generasi muda akan bisa berkembang. Ia menilai untuk dapat berkembang generasi muda Indonesia akan lebih mudah karena berada di negara atau tanah air sendiri. Ia juga menegaskan agar bisa berkembang dan meraih sukse...

Apakah Ahok Menista Agama? Ini Penjelasan Ketum PBNU

Kisruh atas kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dianggap menista agama oleh sebagian kelompok menjadi bola liar dan makin tak terkendali. Hal inilah yang dituntut oleh kelompok tersebut melalui demo 14 Oktober 2016 lalu dan 4 November 2016 mendatang untuk melontarkan berbagai tuntutan terhadap Ahok. Lalu seperti apakah yang disebut penistaan agama itu? Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan bahwa penistaan agama selain ucapan, juga tindakan atau perilaku. “Demi Allah, apa yang dilakukan oleh ISIS adalah penistaan agama. Membunuh orang seenaknya atas nama agama Islam, penistaan agama Islam itu,” jelas Kiai Said saat menjadi Narasumber dalam Program Live Mata Najwa di Metro TV bertema Menjaga Kebhinnekaan, Rabu (2/11) malam. Sebab itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan ini menegaskan, penistaan agama bukan hanya verbal atau ucapan tetapi juga tindakan. “Perbuatan yang bertentangan dengan agama kemudian mengatasnam...

Kapolri Sebut Agenda Khilafah Tunggangi Demo 4 November

Kapolri Jenderal Polisi M. Tito Karnavian mengungkapkan bahwa demo 4 November 2016 mendatang ditumpangi oleh beberapa kepentingan. Termasuk kelompok yang sudah lama mempunyai agenda mendirikan khilafah. Hal ini dijelaskan oleh Kapolri karena isu penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) telah berkembang ke arah yang lebih dari sekadar melakukan demo menuntut Ahok. Padahal Kepolisian saat ini sedang memproses kasus Ahok tersebut. “Kalau saya lihat, demo ini terpicu oleh beberapa hal, pertama kelompok yang memang dari awal tidak suka terhadap gaya bicara Basuki Tjahaja Purnama; kedua, kelompok yang terprovokasi atas nama penistaan agama; dan ketiga, agenda dari kelompok yang memang sudah cukup lama ingin mendirikan khilafah,” ungkap Kapolri, Rabu (2/11). Pernyataan tersebut diungkapkan Jenderal Tito ketika menjadi salah satu narasumber di Program Live Mata Najwa di Metro TV bertema Menjaga Kebhinnekaan, Rabu (2/11) malam. Penjelasanmantan Kepala BNPT terseb...