Langsung ke konten utama

Sikapi Aksi 4 November, PWNU Jabar Imbau Nahdlyin Baca "Qunut Nazilah"

Ketua Tanfidiziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, KH Hasan Nuri Hidayatullah imbau warga Nahdlyin untuk membaca "Qunut Nazilah" selepas shalat dalam menyikapi aksi 4 November yang dilakukan berbagai kelompok Muslim di Indonesia.

Baik perorangan maupun berjamaah, Ketua PWNU yang terpilih dari Konferwil NU Jabar di Garut beberapa waktu lalu itu bisa dilaksanakan di tempat masing-masing.

"Kita warga NU Jabar harus patuh pada maklumat resmi PBNU. Soal aksi 4 November kita demonya kepada Allah SWT saja. Membaca Qunut Nazilah, memohon kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia khususnya umat Islam diberikan kekuatan dalam menghadapi cobaan kecil maupun besar, sekaligus mendoakan agar Negara Republik Indonesia menjadi negara yang diridlai Allah SWT serta terjaga persatuan dan kesatuan Bangsanya," kata KH Hasan Nuri, Kamis (3/11/2016).

Menurut Kiai Muda Kelahiran 1978 Banyuwangi Jawa Timur yang "mukim" Karawang Jawa Barat ini perlu sikap bijak dan arif dari para pendukung maupun yang tidak ikut dalam aksi. Sebagai Umat Islam yang berada di negara yang berpegang teguh pada asas persamaan di depan hukum, tentu berharap penyelesaian hukum yang melilit Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) berlaku secara proposional dan profesional, tidak terintervensi oleh kepentingan politik siapapun.

"Aparat hukum harus menunjukkan kapasitasnya sebagai pengayom dan pelindung masyarakat, tidak hanya sekedar tajam ke bawah tumpul ke atas. Pasalnya aksi tersebut sudah lepas dari kepentingan politik pasca Pilpres 2014 maupun Pilkada DKI 2017. Karena saya pandang lebih cenderung pada fenomena gunung es kekecewaan yang dirasakan masyarakat," ujarnya.

KH Hasan Nuri pun berharap, aksi berjalan aman dan damai sesuai aturan yang berlaku. Dan berdoa agar tujuan utama aksi yakni mengawal proses hukum Ahok tidak ditunggangi kelompok tertentu yang hobi memecah belah umat dan bangsa. (Nurjani/Mukafi Niam)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso Kediri

Letak Pondok Pesantren Al Falah, di desa Ploso kecamatan Mojo, Al falah di kelilingi sungai brantas yang paling terbesar di kediri, bangunan Pondok Pesantren Al falah didirikan pada pertengahan tahun 1924 oleh Al Mukharom KH.Dzajuli Usman , permulaan beliau memiliki santri sekitar 10 orang masih menggunakan metode kono (sorogan) dengan memanfaatkan serambi masjid, dengan semakin banyaknya santri yang menimba ilmu dari beliau akhirnya di bangunlah gedung madrasah di awal tahun 1925. Tanpa terasa santri yang belajar dengan KH. A. Djazuli membengkak menjadi 100 orang. Sebuah kenaiban pun, ia pakai sebagai tempat belajar. Cuma yang menjadi persoalan, seiring dengan semakin bertambahnya santri, fasilitas kenaiban tersebut tak bisa lama-lama ia pakai sebagai tempat belajar para santri. Aparat kantor kenaiban sering terganggu dengan aktifitas para santri. Untuk itu, pada tahun 1939 beliau segera membangun asrama santri yang sekarang bernama komplek A, sebuah asrama berlantai dua yang dilengka...