Langsung ke konten utama

Tiga Hal Ini Perlu Dimiliki Generasi Muda

KH Asep Saifuddin Chalim, dianggap banyak orang berhasil mengelola lembaga pendidikan yakni Pondok Pesantren Amanatul Ummah dan Institut KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto. Selain itu ia juga dinilai sukses menahkodai badan otonom, yakni Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu).

Ia memiliki kepedulian besar terhadap perkembangan generasi muda. Dalam perbincangan dengan NU Online di Pesantren Amanatul Ummah pada 29 Oktober 2016 lalu, sesaat setelah dikukuhkan kembali sebagai Ketua Umum Pergunu 2016-2021, Kiai Asep mengatakan generasi muda harus memiliki tiga hal.

“Generasi muda itu harus bertakwa, berilmu, dan berkiprah. Kalau generasi muda tanpa itu ya tidak punya power,” kata Kiai Asep.

Menurut putra bungsu ‘komunikator kunci’ kelahiran NU KH Abdul Chalim itu, dengan berilmu, generasi muda akan bisa berkembang. Ia menilai untuk dapat berkembang generasi muda Indonesia akan lebih mudah karena berada di negara atau tanah air sendiri.

Ia juga menegaskan agar bisa berkembang dan meraih sukses generasi muda harus tahan banting dan jangan cepat puas.

“Makanya jangan sampai kemudian generasi muda putus kuliah, atau cepat puas hanya lulus S1. Kalau hanya dengan pendidikan S1 saja sudah puas ya nggak bisa. Yang sudah lulus S1 harus meneruskan S2, lalu S3. Setelah S3 baru berkiprah sampai sehebat-hebatnya,” tambahnya.

Pendidikan yang dikembangkan di Pesantren Amanatul Ummah dan Institut KH Abdul Chalim juga dilakukan dengan pendekatan pendidikan karakter. Kiai Asep menyebutnya dengan perbaikan akhlak.

“Akhlak yang baik ya melaksanakan perintah agama. Kemudian disempurnakan dengan tidak boleh malas, tidak boleh berkata tidak bisa, tidak boleh putus asa, tidak boleh minder, tidak boleh pengecut, dan jangan suka utang,” pungkasnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Salah Ambil Toples

Seorang santri, sebut saja namanya Tholib, dipanggil untuk menghadap kiainya. Karena mungkin merasa sungkan jika sowan sendirian, akhirnya Tholib mengajak seorang santri senior. Sesampainya di kediaman pengasuh, Tholib disuruh kiayinya membuatkan teh.<> Kiai: " Kang, gaweo dewe teh nang dapur mburi !" (Kang, silahkan membikin teh sendiri di dapur belakang). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Setelah teh siap dihidangkan, Tholib membawanya ke ruang tamu. Merasa ada yang kurang di meja lantaran hanya ada beberapa gelas berisi teh, lantas sang Kiai menyuruh Tholib untuk mengambil kue di dapur juga. Kiai: " Kang, nek ono jajanane, jukuken toples nang dapur! " (Kang, kalau ada kue, ambil saja toples di dapur). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Begitu sampai di dapur. Tholib menjumpai sebuah toples di dapur dan langsung mengambilnya, tanpa memastikan isi yang ada di dalamnya. Sembari meletakan toples di meja, tanpa basa-basi Tholib langsung membuk...