Langsung ke konten utama

Postingan

KAOS NU PENJAGA NKRI

Harga Rp. 85.000 Deskripsi singkat Kode Produk : 026 Stock 15pcs Kontak Kami Bingung Cara Order / Pesan? Customer Service DistroKangSantri siap melayani dan membantu Anda. Kontak Kami Whatsapp :  0822 4803 0659 BBM :  DAC63E56 Facebook :  Distro Kang Santri Instagram :  distrokangsantri Alamat Toko: Jl. Tumaritis No. 27 Harjamukti Depok KONTAK KAMI ( Fast Respond ) *Kami siap melayani Anda dengan sepenuh hati! Whatsapp :  0822 4803 0659 BBM :  DAC63E56 Facebook :  Distro Kang Santri Instagram :  distrokangsantri Alamat Toko: Jl. Tumaritis No. 27 Harjamukti Depok Detail Produk Harga : Lengan Pendek :85.000 Lengan Panjang :90.000 Tersedia warna Hitam dan Putih Cara Pemesanan, kirim NAMA: ALAMAT: NO HP : UKURAN KAOS : WARNA KAOS : JUMLAH KAOS : ( MINIMAL 1 ) UKURAN KAOS : ( MAX XXXL )

Dari PKI menjadi seorang KYAI

Terlahir dari keluarga PKI, Setiono akhirnya disuruh ibunya mondok ketika beliau masih belia. Kematian paman yang mengasuhnya sejak kecil adalah spirit yg menguatkannya mondok. Maklum, pamannya mati disembelih Banser karena terlibat PKI pada tahun 1966 atas instruksi Jenderal Soeharto. Pilihan ibunya adalah memondokkan Setiono berguru ke Kyai Muchtar (panggilan ayah saya KH. Achmad Muchtar Ghozali) yang baru pulang mondok di Ketapang Kepanjen di bawah asuhan Romo Kyai Muhammad Said pada tahun 1967. Kyai Said adalah ulama kharismatik dari Malang, santri Kyai Khozin Siwalan Panji dan Kyai Hasyim Asyari. Beliau dikenal sebagai waliyullah dan ulama nasionalis karena ilmu laduni dan 'kejadugannya' menggembleng para santri dalam melawan penjajah belanda, jepang hingga pemberontak PKI. Selain karena alasan paling dekat rumah, PPAI Darun Najah yang diasuh Kyai Muchtar memang pondok satu satunya yang ada dan berdiri di Tlogosari (nama desa saya sebelum diganti dengan Ngijo). Maklum,...

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 3/Habis)

Santrionline.net ~ Delapan tahun saya dekat dengan Gus Dur. Saya punya rekaman 95 menit dengan Gus Dur, dan itu tidak dimiliki oleh yang lain. Saat itu tiba-tiba Gus Dur minta dibawakan tim media saya. Gus Dur hanya memakai celana pendek sambil tiduran di ruang tamu minta direkam.  “Pak sudah siap,”  kata saya. “Ya sudah,”  jawab Gus Dur. “Mohon Bapak pakai sarung,”  protesku karena tak pantaslah Gus Dur sebagai narasumber hanya memakai celana pendek. Kata Gus Dur,  “Lhoh, kan sumber utamanya Anda. Anda yang harus rapih. Saya hanya mendampingi.” Akhirnya saya minta Mas Munif, menantunya Mbah Abdul Jalil Mustaqim, untuk mengambilkan sarung. Lalu sarung itu diberikan ke Gus Dur dan hanya ditutupkan di atas celana. 90 menit tiba-tiba Gus Dur cerita soal kuliah dan belajar beliau. Gus Dur itu sosok pendendam yang baik. Dulu pernah saya di pesawat bersama Gus Dur, saya ijin,  “Mohon maaf, Nurcholis Majid mau ke rumah saya di Jatiwangi.” “Iya, dia mau jadi presid...

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 2)

Santrionline.net ~ Ramadhan kemarin, ketika saya diundang oleh Kick Andy, dibuatkan sebuah acara bertajuk ‘Dakwah Ramah’ dengan merangkul anak-anak jalanan. Perasaan saya dan istri serta beberapa penonton di ruangan itu, melihat tidak ada yang salah dengan pernyataan saya. Namun ada perasaan tidak enak di hati saya. Melihat yang sudah-sudah sekelas Ketua Umum PBNU saja (Kyai Said Aqil) dibully terus-terusan, tapi beliau bandel. Hingga saya pernah bertanya,  “Kyai kok tenang-tenang saja? ” Jawab Kyai Said enteng,  “Lha wong HP saya jadul.”  Jadi selama ini beliau tidak bermedsos seperti twitter, facebook ataupun lainnya. Giliran Gus Mus yang saya tanya,  “Abah tenang-tenang saja?”  Jawab Gus Mus,  “Lha iya, kita mikirnya Allah saja, kenapa mikir manusia?”  Beliau kalau ke saya sangat luwes. Saya juga pernah bertanya kepada Mbah Mun (KH. Maimoen Zubair), karena sekelas beliau ada saja yang menyerang. Namun jawab Mbah Mun, “Saya itu senang aja dikomentar...

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (bag. 1)

Santrionline.net ~ Sewaktu awal saya mondok 6 tahun di Baitul Arqom al-Islami Ciparay Bandung, pada Kyai Ali Imron Faqih, adik iparnya Kyai Ilyas Ruhiyat. Setelah itu melanjutkan ke Kyai Mudzakir di Banyurip Pekalongan, murid dari Mbah Dimyathi Termas, saya dapat ijazah Dalail dari beliau. Anehnya oleh adik Kyai Mudzakir –sosok unik yang selama 40 tahun tidak pernah keluar kamar- saya diajarkan cara berdebat dan cara mempertahankan Ahlussunnah wal Jama’ah lewat surat yang ditulis sangat bagus oleh beliau, termasuk diajarkan mencintai para habaib. Dari Kyai Mudzakir lah saya dipertemukan dengan Habib Luthfi Bin Yahya, yang waktu itu masih muda, dan Habib Ali Alattas (guru Habib Luthfi) saat itu masih hidup. Habib Ali Alattas adalah habib sepuh di Pekalongan yang unik. Tidak bisa melihat tapi mampu mengajar kitab Syarah Bukhari, yang berarti beliau hafal kitab tersebut di luar kepala. Dari Habib Luthfi saya minta petunjuk, dan dijawab oleh beliau,  “Nanti setelah beres dari Kyai Mudz...

Kenapa Habib Luthfi Fanatik Kepada NU? Ini Jawabannya

Santrionline.net ~ Dulu saya sering duduk di rumahnya Kyai Abdul Fattah, untuk mengaji. Di situ ada seorang wali, namanya Kyai Irfan Kertijayan. Kyai Irfan adalah sosok yang nampak hapal keseluruhan kitab Ihya Ulumiddin, karena kecintaannya yang mendalam pada kitab tersebut. Setiap kali ketemu saya beliau pasti memandangi dan lalu menangis. Di situ ada Kyai Abdul Fattah dan Kyai Abdul Adzim. Lama-kelamaan akhirnya beliau bertanya, “Bib, saya mau bertanya. Cara dan gaya berpakaian Anda kok sukanya sarung putih, baju dan kopyah putih, persis guru saya.” “Siapa Kyai?” jawabku. “Habib Hasyim bin Umar,” Jawab Kyai Irfan. Saya mau ngaku cucunya tapi kok masih seperti ini, belum menjadi orang yang baik, batinku dalam hati. Mau mengingkari/berbohong tapi kenyataannya memang benar saya adalah cucunya Habib Hasyim. Akhirnya Kyai Abdul Adzim dan Kyai Abdul Fattah yang menjawab, “Lha beliau itu cucunya.” Lalu Kyai Irfan merangkul dan menciumiku sembari menangis hebat saking gembiranya. Kemudian...

Cara Para Wali Menanam Islam di Tanah Jawa

Santrionline.net ~ Cara mengajar para wali jaman dahulu, menyebut Allah agar tidak terlalu nampak menyebutnya dengan Gusti Pengeran, Rasulullah dengan Kanjeng Nabi, Shalat dengan Sembahyang, Mushalla dengan Langgar, Syaikh atau Ustadz dengan Kyai, Tilmidzun Muridun dnegan Santri, Kalimat Syahadat dengan Kalimosodo, Syahadatain dengan Sekaten. Cara para wali menasihati masyarakat tidak dengan (bahasa) Arab, tapi dengan isyarat, asal bisa diterima. Ingin jadi orang baik, cukup dinasihati, “Jangan lupa Jempol ya,” begitu saja. Jempol itu bagus, tidak sempurna jika tidak ada Jenthik (kelingking). Jenthik itu maknanya jangan otak-atik barang orang lain, jangan suka mencuri. Jadi para wali jaman dulu tidak perlu berdalil “As-sariqu was-sariqatu faqtha’u aidiyahuma” atau dengan dalil hadits “Lau anna Fathimata bintiy saraqat laqatha’tu yadaha”. Terus Jari Manis, jangan bermanis-manis wajah. Jadi Penunggul, jadilah orang yang unggul tapi tidak sombong. Jadi Penuduh, jadilah yang bisa memberi...