Langsung ke konten utama

Postingan

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Popularitas shalawat Nariyah di kalangan umat Islam di Nusantara memang tak terbantahkan. Namun, apakah ia lantas bersih dari para penolaknya? Ternyata tidak. Sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat lumrah dalam kehidupan beragama. Lewat beragam sudut, beberapa orang melancarkan vonis bahwa pengamalan shalawat Nariyah termasuk melenceng dari ajaran Rasulullah alias bid’ah. Sebagian yang lain mengahakimi secara lebih ekstrem: syirik atau menyekutukan Allah. Vonis bid’ah umumnya berangkat dari alasan tak ditemukannya hadits atau ayat spesifik tentang shalawat Nariyah. Sementara tuduhan syirik berasal dari analisa terjemahan atas redaksi shalawat yang dinilai mengandung unsur kemusyrikan. Yang terakhir ini menarik, karena tuduhan “sekejam” itu ternyata justru muncul hanya dari analisa kebahasaan. Benarkah demikian? Kita simak dulu redaksi shalawat Nariyah secara lengkap sebagai berikut: اَللّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْ...

Menghakimi Agama Hanya Ada di Akhirat, Bukan di Dunia

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi berpendapat, seseorang boleh saja meyakini kebenaran akan agamanya sendiri, namun tidak selayaknya ia gemar menghakimi agama orang lain. Menurutnya, penghakiman atau penilaian terhadap sebuah agama atau keyakinan hanya bisa dilakukan di akhirat, bukan di dunia. Karena itu dalam Al-Qur’an ada istilah “yaumiddîn” yang bagi Kiai Masdar lebih pas diterjemahkan dengan arti “hari agama”, bukan “hari pembalasan”. “Karena pada waktu itulah agama-agama akan diadili oleh Allah,” tuturnya dalam Dialog Kebangsaan bertajuk “Pancasila sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa” di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (28/10) malam. Kiai alumni Pesantren Krapyak ini mengatakan, hal tersebut juga selaras dengan kandungan makna kalimat basmalah yang dalam dunia pesantren di Jawa arrahman diberi arti kang moho welas asih ing donyo lan akherat (yang maha welas asih di dunia dan akhirat) dan arrahîm diartikan kang moho welas asih ing akherat beloko (yang maha welas asih di akhirat...

Videotren Jadi Media Dakwah Santri Inspiratif

Yogyakarta, Santrionline-Perkembangan teknologi digital dan media sosial menjadi tantangan bagi komunitas pesantren. Selama ini, komunitas pesantren tertinggal dalam bidah dakwah di media sosial. Untuk itu, meski terlambat, santri harus bekerja keras untuk mengejarnya. Hal inilah yang menjadi perbincangan dalam workshop Videotren, pada rangkaian Hari Santri Rabithah Ma'ahid Islamiyyah (RMI) Nahdlatul Ulama, Sabtu (29/10/2016). Agenda ini, diselenggarakan di Hall Hari Santri Nasional, di Stadion Maguwoharjo, Yogyakarta. Agenda ini, dihadiri oleh KH. Abdul Ghaffar Rozien, M.Ed (Ketua PP RMI-NU), Hakim Jaily (Direktur TV9) dan Hasan Chabibie (Pustekkom Kemdikbud). Gus Rozien, Ketua PP RMI NU, menyampaikan, santri harus mengejar ketertinggalan dalam dakwah media sosial. "Meski terlambat, kita harus bekerja keras dan cepat mengejarnya. Untuk itu, mari kita banjiri konten-konten positif dan inspiratif, dari dunia pesantren, di media sosial," ungkap Gus Rozin. Ketua PP RMI dan p...

KH Anwar Zahid: Jauhi Islam “Suhu Pendek”!

Dai kondang KH Anwar Zahid yang mengisi pengajian umum dalam rangka Khitanan Massal dan Santunan Yatama di Desa Bandungrejo Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, berkomentar soal perkembangan politik di Tanah Air. Menurutnya, kaum Muslim tidak perlu ikut campur dalam problem yang lagi hits di media, utamanya di Jakarta. Kiai asal Bojonegoro Jawa Timur itu mengingatkan, negara Indonesia sudah dijajah ratusan tahun oleh penjajah. Salah satu penyebab yang memuluskan proses penjajahan tersebut ialah rakyat Indonesia sangat mudah untuk diadu domba. Adu domba memanfaatkan isu perbedaan ideologi, beda agama, atau beda panutan. “Apalagi sesama Islam mudah sekali diadu domba maka agama yang lain akan tepuk tangan menertawakan kita,” katanya kepada ribuan jamaah yang hadir. Kiai yang terkenal dengan guyonan “Qulhu Ae Lek” itu juga prihatin dengan apa yang ia sebut dengan kelompok “Islam Suhu Pendek”. Sesuai dengan namanya, pengikut Islam model ini jika disulut sedikit saja akan l...

Kiai Ma’ruf: MUI Tidak Dukung Demo Terkait Ahok

Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin menyatakan lembaga yang dipimpinnya tidak mendukung demo-demo terkait tuduhan penistaan agama oleh Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama yang akrab dipanggil Ahok. Meskipun demikian, MUI juga tidak bisa melarang demo-demo tersebut karena dilindungi UU. “Kita tidak mendukung adanya demo-demo, tetapi kita tidak bisa mencegah karena itu dibolehkan oleh UU. Paling MUI hanya menghimbau jangan berlaku anarkis, jangan sampai brutal, dengan akhlakul karimah,yang santun,” katanya kepada NU Online di gedung PBNU, Rabu (26/10). Ia menegaskan simbol-simbol MUI tidak boleh digunakan dalam demo karena MUI sama sekali tidak terkait dengan demo-demo tersebut sebagaimana tidak ada kaitannya dengan pemanfaatan pendapat MUI tersebut untuk kepentingan pilkada. “Saya bilang, orang MUI tidak terlibat, kalau ada orang MUI yang ikut di sana, saya nyatakan, tidak ada hubungannya dengan MUI. Dikatakannya, keputusan yang dikeluarkan MUI adalah pendapat keagamaan MUI terhadap pernyata...

Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial

KH Ahmad Mustofa Bisri pernah mempopulerkan istilah saleh ritual dan saleh sosial. Yang pertama merujuk pada ibadah yang dilakukan dalam konteks memenuhi haqqullah dan hablum minallah seperti shalat, puasa, haji dan ritual lainnya. Sementara itu, istilah saleh sosial merujuk pada berbagai macam aktivitas dalam rangka memenuhi haqul adami dan menjaga hablum minan nas. Banyak yang saleh secara ritual, namun tidak saleh secara sosial; begitu pula sebaliknya. Gus Mus tentu tidak bermaksud membenturkan kedua jenis kesalehan ini, karena sesungguhnya Islam mengajarkan keduanya. Bahkan lebih hebat lagi; dalam ritual sesungguhnya juga ada aspek sosial. Misalnya shalat berjamaah, pembayaran zakat, ataupun ibadah puasa, juga merangkum dimensi ritual dan sosial sekaligus. Jadi, jelas bahwa yang terbaik itu adalah kesalehan total, bukan salah satunya atau malah tidak dua-duanya. Kalau tidak menjalankan keduanya, itu namanya kesalahan, bukan kesalehan. Tapi jangan lupa, orang salah pun masih bisa un...

Kabar dari Malaikat untuk Ahli Ibadah 70 Tahun

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali pernah bercerita dalam salah satu kitabnya, Ayyuhâl Walad, tentang seorang Bani Israil yang begitu taat beribadah kepada Allah. Hamba ini menunjukkan kesalehan tersebut hingga tujuh puluh tahun lamanya. Suatu kali Allah mengutus Malaikat untuk memberi kabar kepadanya bahwa seluruh ibadah yang ia tunaikan itu tidak lantas membuatnya pantas masuk surga. Saat pesan tersebut disampaikan, sang hamba ahli ibadah berujar, “Kami diciptakan Allah untuk beribadah maka sudah semestinya kami pun beribadah.” Jawaban si hamba di atas selaras dengan bunyi ayat yang tercantum dalam Surat ad-Dzariyat ayat 56: “Wa mâ khalaqtul jinna wal insa illâ liya‘budûn (Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Ahli ibadah itu tak menunjukkan tanda-tanda protes atas kabar dari malaikat, melainkan sekadar menjelaskan bahwa ibadah 70 tahun yang ia lakukan sejatinya hanyalah wujud dari pelaksanaan perintah Allah sendiri. Malaikat ...