Langsung ke konten utama

Postingan

Habib Lutfi : Cara Menerima Ridha Allah

Bab ini sebenarnya sedang menerangkan tentang perjalanan ahwal para wali Allah. Dan kita sebagai orang awam turut belajar menerima ridha apa yang dikehendaki Allah Swt. Tidak berarti ridha meninggalkan ikhtiar. Ridha tetap di dalam perjalanan ikhtiar. Misalnya dalam hari ini atau kapanpun, kita diberi oleh Allah sebuah kesulitan dalam mencari rizki. Karena timbul sebab-musabbab orang bisa menerima bukan masalah pribadinya saja, tapi karena ditangisi atau takut disalahkan oleh keluarga terutama istri, ibu anak-anak yang melihat keberadaan para anak-anak dalam segala kekurangannya untuk hari itu khususnya. Protes selalu dilontarkan, bukan karena tidak menerima qadha tetapi karena sebab melihat putra-putrinya yang mana juga belum siap untuk menerima qadha (kehendak) Allah Swt. Bagi seorang suami menitikberatkan, “Alhamdulillah kita mendapat rizki hari ini walaupun kurang, cukuplah asal anak-anak kita tidak kelaparan”, dari hitungan segi materiil. Karena keberadaan mencari sesuatu yang waj...

Ini Penyebab Munculnya Ideologi Rdikal Menurut KH.Maruf Amin

Jakarta,  NU Online   Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menyebut radikalisme dan terorisme merupakan bahaya global yang harus ditangkal melalui berbagai langkah strategis, salah satunya melalui media. Aktivitas radikalisasi kian masif karena sejumlah faktor. Kiai Ma’ruf mengatakan, radikalisme muncul berpangkal dari pemahaman yang keliru, khususnya dalam memaknai istilah jihad. Padahal menurutnya, jihad tidak selalu bermakna perang. Bahkan, upaya menjadikan kondisi masyarakat yang damai ( islahiyyah ) di segala lini kehidupan adalah jihad yang harus dilakukan. “Dalam kondisi perang, jihad bisa berarti perang. Tetapi dalam kondisi damai, jihad bermakna perdamaian yang harus terus diusahakan,” ujar Kiai Ma’ruf, Rabu (22/3) di Jakarta dalam Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya Bersama OKP dan Ormas. Tragisnya, menurutnya Kiai Ma’ruf, para ekstremis terus mengampanyekan jihad sebagai perang sehingga yang terjadi adalah global w...

KH Ma'ruf Amin: Teror Bukan Jihad, Jihad Bukan Teror

Jakarta.Santrionline -Dalam rangka menjawab dan memenuhi keinginan masyarakat terkait dengan penyebaran pemahaman keagamaan yang inklusif, toleran dan anti kekerasan di bidang media,serta menciptakan ruang dan kanal-kanal bagi tumbuhnya media Islam Rahmatan lil Alamin yang menolak gerakan radikalisme berbasis agama, serta menolak pemberitaan palsu (hoax), website resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama - NU Online dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengadakan  WORKSHOP MEDIA ISLAM MODERAT MENANGKAL RADIKALISME DAN HOAX. Dalam acara sambutan acara, KH. Maruf Amin mengatakan bahwa Terorisme muncul sebagai tindakan berpangkal dari pemahaman yang keliru dan distorsi tentang ajaran, utamanya tentang jihad dalam agama. Kelirunya lagi, jihad dibawa kemana mana seakan dunia dalam situasi perang yang membutuhkan jihad. Beberapa poin itulah yang dikatakan oleh Rais Aam PBNU, KH Ma'ruf Amin dalam alam sambutan pembukaan acara Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme di Du...

Ketum PBNU Melantik Lima Rektor UNU Baru

Jakarta.Santrionline- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA melantik lima Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) yang baru berdiri, di Gedung PBNU, Selasa sore (21/03/2017). Kelima universitas tersebut adalah UNU Tegal, UNU Yogyakarta, UNU Kebumen, UNU Purwokerto dan UNU Bojonegoro. "PBNU berikhtiar menghadirkan UNU untuk memberikan kesempatan anak bangsa agar bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi," kata Kiai Said Aqil dalam sambutannya. Lebih lanjut Ketum PBNU menegaskan bahwa mendirikan UNU sebagai sarana pengabdian bukan alat untuk mencari keuntungan. "Karena itu Rektor UNU harus berspirit pengabdian dan keikhlasan," terang Kiai Said Aqil. Tentang pengembangan dan kelangsungan UNU, Kiai Said Aqil meminta agar pihak universitas menjalin komunikasi intensif dengan NU dan pemerintah. "UNU itu bagian dari NU dan mitra strategis pemerintah. Jangan kuatir selama niatan kita untuk mencerdaskan bangsa," ujar ...

Pilih "Jomblo" atau "Nikah" Diusia Dini?

Dimasa serba internet sekarang ini, rasanya tidak ada orang yang tidak memiliki medsos entah itu Facebook, Path, Instagram, Line, Wechat, Twitter, Pactor, BBM, Whatsapp dan jenis-jenis lainnya, dari kalangan anak-anak sampai kakek-kakek. Tak sedikit dari mereka yang menggunakan media tersebut sebagai ajang pamer apa yang dimilikinya entah itu harta, kecantikan/ketampanan (meskipun hasil editan bukan perawatan), kebahagiaan, tak terkecuali yaitu kemesraan. Yah... kemesraan mungkin sekarang menjadi salah satu hal yang paling menggiurkan untuk dipamerkan, karena mereka ingin menunjukan kalo mereka bukan golongan para fakir asmara yang akrab disapa jomblo, sebab dimata mereka jomblo adalah makhluk yang sangat menyedihkan dan bahan paling empuk sebagai sasaran  bully . Mungkin pandangan seperti itu banyak dipengaruhi oleh tontonan-tontonan yang menanamkan setigma negative tentang jomblo, bahwasanya jomblo itu hidupnya ngenes, galau, terasingkan, menyedihkan-silahkan lanjutkan sendiri-bh...

Tekstualis Vs Kontektstualis

Akhir-akhir ini mungkin banyak dari kita yang sering menyaksiakn beberapa orang bahkan ustad yang ketika menjelaskan sebuah ayat atau hadis hanya secara terjemahan saja sehingga tidak sedikit penjelasan tersebut menuai kontroversi di tengah masyarakat, salah satu contohnya ustad Khalid Basalamah. jika kita mengerti pembagian kelompok dalam memahami al-Quran dan Hadis mungkin tidak akan begitu heran melihat orang-orang seperti ustad Khalid Basalamah. penulis berharap tulisan ini bisa sedikit memberi pengetahuan baru tentang kelompok-kelompok tersebut. Sebgaimana diketahui bahwa bahwa Nabi Muhamad Saw, hidup 15 abad yang lalu, beliau mengajarkan agama Islam di tengah-tengah masyarakat   Arab jahiliyah, lalu apakah pemahaman terhadapt Hadis pada zaman sekarang harus mengikuti pola pemahaman pada zaman dulu? Dimana peradaban manusia saat ini jauh berbeda dengan 15 abad yang lalu. Oleh karena itu untuk memahami al-Qur’an dan Hadis tidak bisa terpaku dengan teks saja, tetapi harus mempe...