Langsung ke konten utama

Diundang Tabligh Akbar Di jakut, GP Ansor Minta Flix Siauw Tanda Tangani Kesetiaan Pada Pancasila

Jakarta. Santrionline- Tabligh Akbar yang akan dilaksanakan pada 25 November 2017 di Masjid An Nashru RW. 09 Perum Gading Griya Lestari Sukapura Cilincing Jakarta Utara direncanakan akan menghadirkan Felix Siauw.

Mengetahui hal itu, GP Ansor Jakarta Utara (Jakut) melakukan tabayyun dan musyawarah (22 Nopember 2017 pukul 17.00 WIB) kepada pihak-pihak terkait atas rencana tersebut. Hadir dalam forum tabayyun tersebut: Camat Cilincing, Kapolsek Cilincing, perwakilan Koramil Cilincing, PCNU Jakarta Utara, PC GP Ansor Jakarta Utara, PAC Ansor Cilincing, PD Muhammadiyah dan tokoh masyarakat jama’ah Masjid Jami’ An Nashru.

Berikut hasil tabayyun dan musyawarah bersama yang dikeluarkan PC GP Ansor Jakut tertanggal 22 November 2017/ 3 Rabi’ul Awal 1439H yang ditanda tangani oleh PC GP Ansor Jakut Drs. Subhan dan Sekretaris Mohamad Huda:

1. Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan amaliah dari Nahdlatul Ulama yang sudah diwariskan turun menurun oleh para pendiri NU, maka tidak mungkin Ansor dan Banser melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang diwariskan para pendiri NU (membubarkan pengajian, Tabligh Akbar, peringatan Hari Besar Islam).

2. Bersama DKM Masjid An Nashru sepakat mencegah tumbuh kembangnya paham radikalisme yang bertujuan untuk merongrong Pancasila sebagai ideologi Bangsa.

3. GP Ansor, Banser dan DKM Masjid Jami’ An Nashru sepakat bersama sama untuk mensukseskan pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang akan dilaksanakan hari Sabtu 25 November 2017.

4. Berkomitmen bersama sama dan Ustad Felix Siauw ikut menanda tangani kesetiaan terhadap Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan Undang-Undang Dasar 45 yang akan ditanda tangani seluruh elemen.

5. Panitia Tabligh Akbar menjamin dan segera menghentikan acara tersebut bila konten ceramah bertentangan dengan Pancasila dan NKRI.

Demikian hasilnya harap diperhatikan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Kira-kira si Felix masih tetap ngeyel dan lari kemudian bermain jadi korban (victim) atau mau tanda tangan yah? Kita nantikan saja. (ARN)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Ketika Seluruh Malaikat Memakai Pakaian Seperti Sayyidina Abu Bakar Asiddiq r.a

Ilustrasi Khalifah ‘Umar menuturkan sebuah riwayat: Pada suatu hari Rasulullah saw meminta bantuan dana kepada kami. Aku berhasrat untuk melebihi Abu Bakar, yang selalu berada di atasku, dalam setiap perbuatan baik. Aku membawa separo harta kekayaanku dan datang menemui Rasulullah. Lalu kuberitahukan kepada beliau bahwa sumbanganku ini separo dari segala yang kumiliki, sedangkan sisanya kutinggalkan untuk keluargaku. Abu Bakar datang dengan sekantung besar emas dan meletakkannya di kaki Rasulullah. Junjungan kita bertanya kepadanya tentang jumlah sumbangan yang diberikan itu kira-kira berapa persen dari seluruh harta yang dimilikinya. Abu Bakar menjawab, ”Semuanya!” Rasulullah menatapku, lalu bertanya kepada Abu Bakar, ”Mengapa tidak engkau simpan sebagian untuk anak-anakmu?” Abu Bakar menjawab, ”Anak-anakku berada di bawah pemeliharaan Allah dan Rasul-Nya.” Setelah peristiwa itu, Abu Bakar tak tampak selama beberapa hari, dan bahkan tidak muncul di masjid Rasulullah saw. Karena merasa...