Langsung ke konten utama

Pesan Gus Mus dan Quraish Shihab untuk yang Merasa Paling Benar Sendiri


Hadir dalam acara talkshow di TV swasta bersama Quraish Shihab, KH Ahmad Mustofa Bisri, yang biasa disapa Gus Mus, mengkritisi mereka yang suka membawa-bawa agama ke panggung politik semisal Pilkada.
“Ya kan itu keterlaluan. Pilkada itu apa sih? Anda berkali-kali katakan “Allahu Akbar”. Anda kira Allah itu seberapa besar? Apa sama dengan Masjid Akbar di Surabaya itu? Apa sama dengan rapat akbar, pengajian akbar? Anda buka Youtube, klik kata kunci ‘bumi’, Anda akan tahu besarnya bumi ini. Dan seberapa besarnya alam ciptaan-Nya ini. Bumi itu kecil sekali,” kata Gus Mus.
“Saya ibaratkan (bumi) biji kacang hijau. Di mana DKI dalam kacang hijau itu? Di mana TPS-TPS dalam kacang hijau itu? Kalau kita katakan “Allahu Akbar”, dan kita belum bisa mengecilkan diri kita sendiri, kita belum menghayati “Allahu Akbar”, kecuali untuk demo saja,” lanjut dia.
Ia mengingatkan, tak seharusnya ada kesombongan dan kelompok yang merasa benar sendiri.
“Jadi kalau ada orang yang sombong, petantang-petenteng, merasa benar sendiri, saya ketawa. Biji kacang hijau kok petantang-petenteng,” kata Gus Mus.
Sementara itu, Qurais Shihab mengingatkan, hendaknya manusia bersikap rendah hati saat berhadapan dengan siapapun.
“Orang yang lebih rendah dari Anda, bisa jadi punya pengetahuan yang Anda tidak tahu. Profesor, banyak hal yang dia tidak tahu. Boleh jadi, pembantu, sopir, lebih pandai dari dia. Kita diciptakan dari tanah, supaya kita rendah hati. Iblis dari api, sehingga dia merasa tinggi hati. Tanah walau diinjak-injak, tapi menumbuhkan tumbuhan. Manusia begitu, semakin rendah hati, semakin terbuka hatinya untuk menerima kebenaran, memancarkan cahaya,” kata Quraish Shihab.
Ditanya mengenai bagaimana seharusnya hidup bersama di tengah perbedaan, Gus Mus mengatakan, Muslim yang menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai panutannya, pasti akan menjadi seorang yang toleran.
“Kalau orang Islam, mengikuti Kanjeng Nabi, Rasulullah SAW, pemimpin agungnya, dia akan toleran,” kata Gus Mus.
Ia mengingatkan, agar setiap individu terus meningkatkan pengetahuannya dan tak pernah berhenti belajar.
“Kalau tidak ngerti, mencari tahu, itu lebih baik. Maka saya selalu mengatakan, mbok belajar terus, jangan berhenti belajar. Kalau membela keyakinan, ya belajar soal keyakinan Anda. Kenal enggak sama pembawa keyakinan ini? Kenal sama Rasulullah enggak? Kenal Rasulullah ya melalui ilmu. Nabi itu bersabda, selama orang itu masih belajar, orang itu pandai. Ketika orang itu berhenti belajar karena merasa pandai, mulailah dia menjadi bodoh,” papar Gus Mus.
Quraish Shihab berpendapat, kehidupan tak mungkin tanpa perbedaan. Akan tetapi, perbedaan itu seharusnya ada titik temu. Tidak ada yang merasa paling benar.
“Kanjeng Nabi itu seringkali membenarkan dua atau lebih pendapat yang berbeda-beda, semua benar. Karena kita tidak bisa hidup tanpa perbedaan. Agama mengatakan, cari titik temu. Kita sebagai bangsa sudah ada titik temunya. Dulu, ada yang mau negara ini sekuler, ada yang mau negara agama. Kita punya titik temu, Pancasila,” ujar Quraish Shihab.
Keduanya juga mengingatkan, agar syiar agama disampaikan dengan cara yang teduh, sehingga mereka yang menerimanya akan mendapatkan hidayah.
“Dakwah itu kan mengajak, mengajak itu bernuansa merayu, membujuk,” kata Gus Mus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Pon Pes Attauhidiyyah Tegal

Pondok Pesantren Attauhidiyyah yang terletak di Desa Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Lokasinya yang berada di ketinggian, tepatnya di bawah kaki Gunung Slamet, tak jauh dari kawasan wisata Guci, bertemperatur udara yang cukup dingin. Untuk menuju lokasi pesantren tersebut, kita harus melalui jalan yang menanjak, berkelok, melintasi ladang tebu, persawahan, dan pepohonan yang rindang. Bulan juni kemaren Ponpes Attauhidiyyah dipilih sebagai tempat kegiatan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se – Indonesia ke V, sejak 7-10 Juni 2015. Melihat fisik bangunan Ponpes yang dipimpin oleh KH. Ahmad Saidi, terlihat pembangunannya yang sedang dalam proses penyelesaian, terutama asrama santri dan masjid. Pondok Pesantren At Tauhidiyah didirikan terbilang ponpes tertua di Tegal. Pon Pes Attauhidiyyah Didirikan oleh KH. Armia pada tahun 1880, di desa Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Desa Cikura yang konon awalnya bernama desa Pemulia...

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...