Langsung ke konten utama

Gus Miek Tak Mau Dilukis Seukuran Kiai Lain

Jakarta, santrionline
KH. Hamim Tohari Djazuli atau akrab dengan panggilan Gus Miek lahir di Kediri, Jawa Timur,  pada 17 Agustus 1940, beliau adalah putra KH. Jazuli Utsman (seorang ulama sufi dan ahli tarikat pendiri Pondok Pesantren  Al Falah Ploso Mojo Kediri), Gus Miek adalah pendiri amalan dzikir Jama'ah Mujahadah Lailiyah, Dzikrul Ghofilin, dan sema'an al-Qur'an Jantiko Mantab dan salah-satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan pejuang Islam yang masyhur di tanah Jawa dan memiliki ikatan darah kuat dengan berbagai tokoh Islam ternama, khususnya di Jawa Timur. Maka wajar, jika Gus Miek dikatakan pejuang agama yang tangguh dan memiliki kemampuan yang terkadang sulit dijangkau akal.
nu.or.id
Membincang ihwal sosok Gus Miek seakan tidak bisa terlepas dari aura kewaliannya yang begitu terpancar, penuh misteri dan nyentrik. Perilakunya yang khariqul ‘adah, cara dakwahnya yang tidak sama dengan ulama’-ulama’ lainnya, membuat jalan dakwah Gus Miek tidak hanya terbatas pada kaum santri, lebih dari itu kalangan selebriti, orang-orang pinggiran dan bahkan para pecinta gemerlap dunia malam pun tidak lepas dari sentuhan dakwahnya. 

Sosok KH. Hamim Tohari Djazuli ( Gus Miek) menjadi cerita tersendiri bagi Nabila Dewi Gayatri pelukis wanita dari Surabaya kelahiran tahun 1969. Nabila Dewi Gayatri membuat Lukisan Foto Wajah Ulama Nusantara, dalam lukisan-lukisannya merupakan wajah-wajah Ulama Besar yang teduh mulai dari Syeikh Nawawi Albantani, KH Hasyim Asy'ari, KH. Hamim Tohari Djazuli ( Gus Miek),Habib Luthfi bin Yahya hingga Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj, yang di pamerkan di Hotel Grand Sahid Sudirman Jakarta Pusat dari tanggal 8-14 Mei 2017.  

Seperti yang telah diliput oleh NUonline, Nabila Dewi Gayatri menceritakan ketika melukis Gus Miek, selalu tidak bisa. “Gus Miek, ketika saya mau besarkan, dia tidak mau,” kata Nabila di lokasi pameran tunggal lukisannya, para kiai Nusantara yang bertajuk “Sang Kekasih” Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (9/5).

Semula, ia ingin melukis Gus Miek dengan pose separuh badan sebesar 150x120 m. “Udah saya taruh kanvas, saya taruh fotonya di samping. Saya mulai. Saya tidak bisa memulainya. Enggak bisa. Tangan saya gerakkan sulit. Otakku penuh, tidak ada ide-ide baru, memulainya dengan cara apa? Sepertinya aku bukan pelukis ketika melukisnya,” jelasnya. 

Kemudian dia beristighfar, lalu mengirimi fatihah dengan lafal, “khususon ila waliyullah Gus Miek, “Saya tahlili, saya mulai lagi. Belum bisa,” lanjutnya. 

Alumnus Jurusan Arsitek Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Aqidah Filsafat Al-Azhar Kairo itu lalu berziarah ke makam Gus Miek di Ploso. “Kemudian saya mendapatkan ilham, dia tak mau dibesarkan, dapat petunjuk,” katanya.

Setelah itu, perempuan kelahiran Gresik 1969 itu bisa melukis dengan lancar dengan ukuran lebih yaitu 50 x 50 m. sementara kiai lain 80 x 100 m. Bahkan ia bisa melukis ukuran sama sampai 13 buah. “Kemudian ketika melukis Gus Miek, dapat 13, habis. Meski ukurannya lebih kecil, harganya saya samakan karena istimewa,” katanya.

Lukisan Gus Miek itu dipamerkan di Grand Sahid Jaya dari 8-14 Mei. Lukisan itu berada di bagian belakang di antara KH As'ad Syamsul Arifin dan KH Idham Chalid. Ia lebih kecil di antara kedua kiai itu. Dari semua lukisan kiai yang dipamerkan. (Abdullah Alawi/KH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Salah Ambil Toples

Seorang santri, sebut saja namanya Tholib, dipanggil untuk menghadap kiainya. Karena mungkin merasa sungkan jika sowan sendirian, akhirnya Tholib mengajak seorang santri senior. Sesampainya di kediaman pengasuh, Tholib disuruh kiayinya membuatkan teh.<> Kiai: " Kang, gaweo dewe teh nang dapur mburi !" (Kang, silahkan membikin teh sendiri di dapur belakang). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Setelah teh siap dihidangkan, Tholib membawanya ke ruang tamu. Merasa ada yang kurang di meja lantaran hanya ada beberapa gelas berisi teh, lantas sang Kiai menyuruh Tholib untuk mengambil kue di dapur juga. Kiai: " Kang, nek ono jajanane, jukuken toples nang dapur! " (Kang, kalau ada kue, ambil saja toples di dapur). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Begitu sampai di dapur. Tholib menjumpai sebuah toples di dapur dan langsung mengambilnya, tanpa memastikan isi yang ada di dalamnya. Sembari meletakan toples di meja, tanpa basa-basi Tholib langsung membuk...