Langsung ke konten utama

KH Said Aqil Siroj: Di Al-Azhar Saya Bicara Tentang NU Dan Indonesia

Jakarta.Santrionline-Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA bertolak ke Mesir pada hari Selasa (28/02/2017) dini hari pukul 00.55 WIB. Kunjungan ini untuk memenuhi undangan Muktamar Al-Azhar dan Majelis Hukamaul Muslimin.

"Saya harus memenuhi undangan ini karena tema yang diangkat tentang keragaman," kata Kiai Said Aqil di Bandara Soekarno Hatta sesaat sebelum take off.

Menurut Kiai Said Aqil, keragaman manusia termasuk di dalamnya agama sudah jadi tema penting masyarakat dunia.  Saat ini ada gejala dominasi wacana anti keragaman. Dunia sudah gelisah.

"Saya akan sampaikan pengalaman NU dan Indonesia, prinsip-prinsip bermasyarakat warga NU dan Bhinneka Tunggal Ika," kata kiai pengasuh Ponpes As-Tsaqofah, Ciganjur ini.

Kiai Said Aqil menjelaskan, keresahan dunia terhadap gejala anti keragaman sama dengan yang dialami bangsa Indonesia. Pemicunya sama, yaitu kelompok kecil yang mendominasi wacana intoleransi.

"Di Indonesia marak kasus intoleransi ya diblow up kelompok kecil yang tercerabut dari karakter bangsa Indonesia. Watak orisinal bangsa kita aslinya ya toleran, moderat," ujar Kiai Said Aqil.

Sementara itu Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Mesir sudah siap menyambut Kiai Said Aqil. Termasuk para kader NU yang sedang studi di Universitas Al-Azhar.

"Kami para kader NU telah siap mendampingi Kiai Said Aqil demi maksimalnya misi beliau selama di Mesir," kata Mas Amud, mahasiswa Al-Azhar yang berasal dari Jawa Barat. (ANW/KSF/AW).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Salah Ambil Toples

Seorang santri, sebut saja namanya Tholib, dipanggil untuk menghadap kiainya. Karena mungkin merasa sungkan jika sowan sendirian, akhirnya Tholib mengajak seorang santri senior. Sesampainya di kediaman pengasuh, Tholib disuruh kiayinya membuatkan teh.<> Kiai: " Kang, gaweo dewe teh nang dapur mburi !" (Kang, silahkan membikin teh sendiri di dapur belakang). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Setelah teh siap dihidangkan, Tholib membawanya ke ruang tamu. Merasa ada yang kurang di meja lantaran hanya ada beberapa gelas berisi teh, lantas sang Kiai menyuruh Tholib untuk mengambil kue di dapur juga. Kiai: " Kang, nek ono jajanane, jukuken toples nang dapur! " (Kang, kalau ada kue, ambil saja toples di dapur). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Begitu sampai di dapur. Tholib menjumpai sebuah toples di dapur dan langsung mengambilnya, tanpa memastikan isi yang ada di dalamnya. Sembari meletakan toples di meja, tanpa basa-basi Tholib langsung membuk...