Langsung ke konten utama

BAHAYA MEMUTUSKAN SILATURAHMI

Bahaya Memutuskan Tali Silaturahim

santrionline.net - Siapa yang tahan dengan laknat Allah?  Siapa?  Siapa yang mampu merasakan hukuman Allah ini?  Mengapa kalian memutuskan silaturahim?  Mengapa?  Karena apa?  Demi Allah, jika dunia dan segala isinya ini kalian gunakan untuk berbuat zhalim maka (dosanya) tidak bisa menyamai dosa memutuskan silaturahim.  Alangkah kecilnya dunia dibandingkan dengan sesaat pemutusan silaturahim.  Mengapa kamu ceburkan dirimu ke dalam laknat ini.  Apakah karena “si fulan berkata kepadaku demikian, putranya berkata kepadaku demikian, putrinya berkata begini, ia tidak mengundangku, dia tidak menghomatiku, dst.”

Wahai yang berakal, gunakanlah akalmu!  Allah, Tuhanmu yang Maha Agung-lah yang memerintahkanmu untuk menyambung silaturahim.

Saat rahim bergantung di arsy dan berseru kepada Allah memohon perlindungan dari pemutusan silaturahim, Allah Yang Maha Perkasa berkata kepadanya:
اَمَا يُرْضِيْكِ اَنَّ مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَكِ قَطَعْتُهُ
"Relakah kamu (jika) Aku menyambung hubungan dengan yang menyambung hubungan denganmu dan memutuskan hubungan dengan yang memutuskan hubungan denganmu?"
(HR Bukhari, Muslim dan Ahmad dengan lafal berbeda)

Jika hubungan dengan Allah telah terputus, kepada siapa ia akan berhubungan?  Ia mengerjakan salat beberapa rakaat dan mengira dirinya telah berbuat baik, membaca sejumlah tasbih dan mengira dirinya telah berbuat baik, padahal Allah memutuskan hubungan dengannya.  Jika Allah telah memutuskan hubungan dengannya, maka kepada siapa ia akan berhubungan?!

Read : Isa Anshori

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Salah Ambil Toples

Seorang santri, sebut saja namanya Tholib, dipanggil untuk menghadap kiainya. Karena mungkin merasa sungkan jika sowan sendirian, akhirnya Tholib mengajak seorang santri senior. Sesampainya di kediaman pengasuh, Tholib disuruh kiayinya membuatkan teh.<> Kiai: " Kang, gaweo dewe teh nang dapur mburi !" (Kang, silahkan membikin teh sendiri di dapur belakang). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Setelah teh siap dihidangkan, Tholib membawanya ke ruang tamu. Merasa ada yang kurang di meja lantaran hanya ada beberapa gelas berisi teh, lantas sang Kiai menyuruh Tholib untuk mengambil kue di dapur juga. Kiai: " Kang, nek ono jajanane, jukuken toples nang dapur! " (Kang, kalau ada kue, ambil saja toples di dapur). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Begitu sampai di dapur. Tholib menjumpai sebuah toples di dapur dan langsung mengambilnya, tanpa memastikan isi yang ada di dalamnya. Sembari meletakan toples di meja, tanpa basa-basi Tholib langsung membuk...