Langsung ke konten utama

Peletakkan Batu Pertama Pendirian Pesantren Muhibbul Musthofa Rembang

Rembang, Santrionline - Di tengah menjamurnya hotel berbintang di  Kabupaten Rembang, KH Ahmad Kurdi membangun pondok pesantren di Desa Ngampo Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pada Kamis (21/7) merupakan peletakan batu pertama oleh sejumlah ulama diantaranya, KH Tamamuddin Munji, KH Abdul Rozak, dan KH Syarofudin.KH Ahmad Kurdi menjelaskan, jika pondok pesantrennya nanti akan menggunakan sistem pendidikan yang mengutamakan kemandirian para santri. Selain itu, akan membekali santri dengan berbagai keterampilan, yang berupa ilmu pertanian, peternakan, menjahit bagi para santriwati dan masihbanyak keterampilan yang dapat dipelajari untuk menciptakan kemandirian para santri."Nama pondok pesantren masih menjadi pemikiran kita, kemarin Mbah Musthofa memberikan nama Majlisul Musthofa. Dinilai kurang umum diubah lagi menjadi, Abnaulmusthofa. Pagi tadi,Kiai Musthofa mengirimkan surat melalui menantunya Wahyu Salfana namanya menjadi Muhibbul Musthofa,” kata KH Ahmad Kurdi.Menurut Kiai Kurdi, santri hakikatnya lebih pengalaman dari yang lain. Kalau mengacu pada orang zaman dahulu, ilmu-ilmu orang Islam yang diambil olehorang Yahudi. Selain itu, Kiai Kurdi berharap agar para santri langsung praktik setelah mendapatkan teori.Mengenai tujuan membangun pesantren, Kiai Kurdi sejak mondok di Pesantren Raudlatut Tholibien Leteh Rembang, ia mengaku mendapat saran dari KH Cholil Bisri kakak kandung KH Ahmad Musthofa Bisri dan ayah Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas untuk membuat Aula.Menurut Kiai Kurdi, Aula merupakan tempat yang dapat dimanfaatkan untuk apa saja, di antara, shalat berjamaah, mulang ngaji kalau ada santri, dibuat sekat untuk pondok, kalau tidak ada santri bisa untuk wadah Gabah (padi).

(NUonline/ Irma Andriyana)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Sejarah Pon Pes Attauhidiyyah Tegal

Pondok Pesantren Attauhidiyyah yang terletak di Desa Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Lokasinya yang berada di ketinggian, tepatnya di bawah kaki Gunung Slamet, tak jauh dari kawasan wisata Guci, bertemperatur udara yang cukup dingin. Untuk menuju lokasi pesantren tersebut, kita harus melalui jalan yang menanjak, berkelok, melintasi ladang tebu, persawahan, dan pepohonan yang rindang. Bulan juni kemaren Ponpes Attauhidiyyah dipilih sebagai tempat kegiatan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se – Indonesia ke V, sejak 7-10 Juni 2015. Melihat fisik bangunan Ponpes yang dipimpin oleh KH. Ahmad Saidi, terlihat pembangunannya yang sedang dalam proses penyelesaian, terutama asrama santri dan masjid. Pondok Pesantren At Tauhidiyah didirikan terbilang ponpes tertua di Tegal. Pon Pes Attauhidiyyah Didirikan oleh KH. Armia pada tahun 1880, di desa Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Desa Cikura yang konon awalnya bernama desa Pemulia...