Langsung ke konten utama

Rasulullah Saw Mengalahkan Kebencian Dengan Cinta



Seorang nenek di kota Mekkah sedang memanggul kayu bakar dan barang lainnya. Tampak dia begitu kerepotan. Kemudian datanglah seorang pemuda, yang menawarkan diri untuk
membantu memikul barang bawaannya. Sepanjang perjalanan ke rumahnya, Si Nenek begitu terkesan dengan kesantunan pemuda tersebut.

Begitu tiba di rumahnya, Si Nenek berkata, "Nak, engkau pemuda yang baik hati, mau membantu orang tua seperti saya ini. Perilakumu sopan dan terpuji. Saya tidak punya uang atau barang sebagai upah untukmu. Kusampaikan saja sebuah nasihat sebagai upah, yang pasti bermanfaat untukmu"
Pemuda itu mengangguk dan Si Nenek melanjutkan, "Nak, di Kota Mekkah ini ada seorang lelaki bernama Muhammad. Jauhi dia, jangan sekali-kali mendekatinya, menjumpainya atau mendengarkan kata-katanya. Dia membawa agama baru yang akan mencelakakan hidupmu. Dia merusak kepercayaan kita selama ini. Dia jahat".
Pemuda itu tersenyum dan dengan sopan meminta izin untuk pergi. Tapi Si Nenek menahannya, "Sebentar, Nak. Engkau sudah berbuat baik. Tapi saya belum tahu siapa namamu?"
Pemuda itu menjawab, "Saya Muhammad...."
Si Nenek tertegun. Tidak lama kemudian, dia memeluk "agama baru" tersebut..
Akhlak terpuji Nabi Muhammad SAW, telah meruntuhkan seluruh informasi dan propaganda buruk tentang Islam dan Nabinya. Beliau diutus Allah untuk menyempurnakan ahlak.
Assalamualaika yaa Rasulullah...
- dari Habib Salim Alatas
Allahumma Sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa'ala alihi washobihi wasalim

(arifan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Salah Ambil Toples

Seorang santri, sebut saja namanya Tholib, dipanggil untuk menghadap kiainya. Karena mungkin merasa sungkan jika sowan sendirian, akhirnya Tholib mengajak seorang santri senior. Sesampainya di kediaman pengasuh, Tholib disuruh kiayinya membuatkan teh.<> Kiai: " Kang, gaweo dewe teh nang dapur mburi !" (Kang, silahkan membikin teh sendiri di dapur belakang). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Setelah teh siap dihidangkan, Tholib membawanya ke ruang tamu. Merasa ada yang kurang di meja lantaran hanya ada beberapa gelas berisi teh, lantas sang Kiai menyuruh Tholib untuk mengambil kue di dapur juga. Kiai: " Kang, nek ono jajanane, jukuken toples nang dapur! " (Kang, kalau ada kue, ambil saja toples di dapur). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Begitu sampai di dapur. Tholib menjumpai sebuah toples di dapur dan langsung mengambilnya, tanpa memastikan isi yang ada di dalamnya. Sembari meletakan toples di meja, tanpa basa-basi Tholib langsung membuk...