Langsung ke konten utama

GUS MUS BERKISAH PAHIT MANIS HIDUP BERSAMA BU NYAI FATMA

Gus Mus Berkisah Pahit Manis Hidup Bersama Bu Nyai Fatma

Santrionline.net  - Perjalanan rumah tangga KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) bersama Nyai Hajjah Siti Fatma telah berlangsung menjelang setengah abad. Gus Mus resmi menikahi putri Kiai Basyuni ini pada 19 September 1971.

Dalam rentang itu kiai yang kini menjadi Mustasyar PBNU itu merasakan berbagai lika-liku hidup berkeluarga: susah senang dilalui bersama. Hingga akhirnya, Kamis (30/6), pukul 14.30 WIB di RSUD Rembang, Jawa Tengah, Nyai Fatma mendahului Gus Mus pulang ke rahmatullah.

“Selera kami sering berbeda. Tapi kami selalu menghargai selera masing-masing,” tutur Gus Mus melalui akun facebook pribadinya, A Mustofa Bisri, pada 3 April 2016 lalu.

Sebelumnya, dua hari setelah hari pernikahan ke-44, Gus Mus juga bercerita terang-terangan perihal kehidupan bersama istrinya tersebut. Berikut kutipan lengkap tulisan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini di dinding facebooknya pada 21 September 2015.

"Kemarin, 19 September, 44 tahun yang lalu, aku menyatakan "Qabiltu nikãhahã..." ketika Kiai Abdullah Chafizh --Allahu yarham-- mewakili Kiai Basyuni, mengijabkan puterinya, Siti Fatma, menjadi isteriku.

Sejak itu berdua kami mengarungi pahit-manis-gurih-getirnya kehidupan.

Selama itu --hingga kami dikaruniai 7 orang anak, 6 orang menantu, dan 13 orang cucu-- seingatku, belum pernah aku mengucapkan kepada temanhidupku ini: "I love you", "Aku cinta padamu", "Anä bahebbik", "Aku tresno awakmu", atau kata-kata mesra sejenis. Demikian pula sebaliknya; dia sama sekali belum pernah mengucapkan kepadaku kata rayuan semacam itu. Agaknya kami berdua mempunyai anggapan yang sama. Menganggap gerak mata dan gerak tubuh kami jauh lebih fasih mengungkapkan perasaan kami.

Selain itu kami pun jarang sekali berbicara 'serius' tentang diri kami. Seolah-olah memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan secara serius.

Apakah masing-masing kami atau antar kami tidak pernah ada masalah? Tentu saja masalah selalu ada.

Bahkan kami bertengkar, menurut istilah orang Jawa, sampai blenger. Tapi kami menyadari bahwa ‘masalah’ dan pertengkaraan itu merupakan kewajaran dalam hidup bersama dan terlalu sepele untuk diambil hati.

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kurnia ini. Alhamdulillah ‘alã kulli hãl.."

Oleh :Mahbib
Read:Isa Anshori

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Salah Ambil Toples

Seorang santri, sebut saja namanya Tholib, dipanggil untuk menghadap kiainya. Karena mungkin merasa sungkan jika sowan sendirian, akhirnya Tholib mengajak seorang santri senior. Sesampainya di kediaman pengasuh, Tholib disuruh kiayinya membuatkan teh.<> Kiai: " Kang, gaweo dewe teh nang dapur mburi !" (Kang, silahkan membikin teh sendiri di dapur belakang). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Setelah teh siap dihidangkan, Tholib membawanya ke ruang tamu. Merasa ada yang kurang di meja lantaran hanya ada beberapa gelas berisi teh, lantas sang Kiai menyuruh Tholib untuk mengambil kue di dapur juga. Kiai: " Kang, nek ono jajanane, jukuken toples nang dapur! " (Kang, kalau ada kue, ambil saja toples di dapur). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Begitu sampai di dapur. Tholib menjumpai sebuah toples di dapur dan langsung mengambilnya, tanpa memastikan isi yang ada di dalamnya. Sembari meletakan toples di meja, tanpa basa-basi Tholib langsung membuk...