Langsung ke konten utama

Tradisi Peuphon Kitab di Dayah Jam’iyah Al-Aziziyah


Tradisi Peuphon Kitab di Dayah Jam’iyah Al-Aziziyah

Tradisi peuphon kitab (memulai kitab) menjadi salah satu bukti penghormatan santri terhadap ilmu dan pemiliknya. Kebiasaan ini dilakukan di hampir seluruh dayah atau pesantren tradisional di Aceh. Seperti yang berlangsung di Dayah Jami’ah Al-Aziziyah Batee Iliek, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh.

<>
Santri kelas III Dayah Jami’ah Al-Aziziyah Batee Iliek, menggelar kegiatan tersebut bersama Abi Zahrul Mubarrak, putra Abu MUDI Mesra Samalanga. Peuphon kitab dimulai dengan pemberian hadiah bacaan surat al-Fatihah untuk pengarang kitab. 

Kitab pertama yang dimulai dalam tradisi rutin yang bertujuan mengharap keberkahan (tabaruk) kali ini adalah Fathul Mu’in karya Syekh Zainuddin Al Malibari, Syarh Waraqat karya Syekh Jalal al-Mahalli yang merupakan uraian dari kitab ushul fiqih karangan Imam Haramain, dan Kitab Nazam Sulam Munauraq karya Syekh Abdurrahman Al-Ahdhari.

Dalam siaran pers yang diterima NU Online, Abi Zahrul memperkenalkan kitab tersebut satu persatu kepada santri lengkap dengan biografi singkat pengarangnya. Salah satu pelajaran penting yang dapat dipedomani, menurut Abi, adalah pentingnya sebuah nama.

Kitab Qurratul Ain, misalnya, bermakna penyejuk jiwa. Nama ini menjadi salah satu doa tersirat sang pengarang (mushannif) agar menarik bagi pembacanya. “Bek sampe kitab baro geubuka, santri kadipreh-preh pajan su lonceng,” kata Abi yang disambut tawa santri Batee Iliek.

Abi juga heran ada sebagian orang yang terkadang memberikan nama anaknya terlebih dahulu, baru mencari tahu arti belakangan. Padahal, dalam Islam nama adalah perkara yang sangat penting dan bagian dari doa.

Ia menguraikan panjang lebar tentang perbedaan fiqih, ushul fiqih dan qaidah fiqih saat mengawali pembelajaran kitab Waraqat. Ushul fiqih merupakan sekumpulan teori yang digunakan oleh para mujtahid untuk menggali hukum fiqih, jadi secara teori ushul fiqih lahir sebelum fiqih, sedangkan qaidah fiqih justru lahir setelah fiqih.

Satu hal lain yang menarik dari kitab ini adalah hasyiah-nya (penjabaran atas syarah) yang dikarang orang Indonesia, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Abi menceritakan bahwa dulu banyak ulama Indonesia yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah yang mengajar di Masjidil Haram sebelum Arab Saudi dikuasai oleh kalangan Wahabi.

Dalam mengomentari kitab Sulam Munauraq dalam fan mantiq, salah satu hal yang disampaikan oleh Abi adalah letak perbedaan antara filsafat Islam dan filsafat barat. “Filsafat Islam berangkat dari keyakinan, sedangkan filsafat barat berangkat dari keraguan,"

Kemudian dalam hal pencapaian ilmu, filsafat barat hanya berorientasi pada mahsus (indrawi) dan al-‘aqlu (rasio), sedangkan filsafat Islam dalam pencapaian ilmu diklasifikasikan dalam tiga hal, mahsus, al-‘aqlu dan tawatur yaitu sesuatu yang bersumber dari Alquran dan hadis dengan periwayatan dalam jumlah ramai.

Di akhir pengajian muqaddimah Mantiq, Abi Zahrul menceritakan sosok Syekh Abdurrahman Al-Ahdhari yang mengarang kitab Mantiq ini pada usia 21 tahun. Namun, ternyata masih ada pengarang yang lebih muda dari Syekh al-Ahdhari yaitu Ibnu Hajib yang mengarang nazam Jamal al-Khawanji pada usianya yang masih 6 tahun. Acara peuphon kitab ini diakhiri dengan salam-salaman yang dipandu dengan shalawat badar.

(nu.or.id/arifan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Salah Ambil Toples

Seorang santri, sebut saja namanya Tholib, dipanggil untuk menghadap kiainya. Karena mungkin merasa sungkan jika sowan sendirian, akhirnya Tholib mengajak seorang santri senior. Sesampainya di kediaman pengasuh, Tholib disuruh kiayinya membuatkan teh.<> Kiai: " Kang, gaweo dewe teh nang dapur mburi !" (Kang, silahkan membikin teh sendiri di dapur belakang). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Setelah teh siap dihidangkan, Tholib membawanya ke ruang tamu. Merasa ada yang kurang di meja lantaran hanya ada beberapa gelas berisi teh, lantas sang Kiai menyuruh Tholib untuk mengambil kue di dapur juga. Kiai: " Kang, nek ono jajanane, jukuken toples nang dapur! " (Kang, kalau ada kue, ambil saja toples di dapur). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Begitu sampai di dapur. Tholib menjumpai sebuah toples di dapur dan langsung mengambilnya, tanpa memastikan isi yang ada di dalamnya. Sembari meletakan toples di meja, tanpa basa-basi Tholib langsung membuk...