Langsung ke konten utama

Kang Said: Ada Empat Metode Pengajaran Yang Ada Di Dunia Pesantren



Kang Said mengatakan bahwa ada empat metode pengajaran yang ada di dunia pesantren. “Ada empat metode pengajaran di pesantren;  tiga hanya ada di pesantren, dan yang satu ada juga di luar pesantren,” kata Kang Said.

Pertama adalah ta’lim (transfer ilmu). Kang Said menjelaskan bahwa metode ini ada di pesantren dan juga di luar pesantren. Bedanya kalau di pesantren proses transfer ilmu berlangsung sehari semalam, tetapi di luar pesantren hanya berlangsung setengah sampai satu hari. Kedua, tadris (mengamalkan ilmu). Untuk metode kedua ini, Kang said memberikan contoh bahwa santri yang terbiasa shalat dengan kiainya, mereka tidak perlu menghafalkan doa setelah shalat karena mereka sudah hafal dengan sendirinya.

“Yang ketiga adalah ta’dib (disiplin). Lima menit sebelum kiai mengajar, santri sudah harus di tempat. Kalau seandainya mereka telat, mereka akan malu banget dan duduk di luar (pesantren),” jelas kiai asal Cirebon itu.

Disiplin, sambung Kang Said, meliputi semua kegiatan belajar mengajar di pesantren seperti disiplin dalam mengerjakan shalat, disiplin dalam mengikuti semua kegiatan pondok, disiplin taat pada kiai, dan lain sebagainya.      

Keempat, tarbiyah (mengembangkan, meningkatkan, dan membangun). Kang Said menuturkan bahwa Kiai itu merupakan murobbi (yang mengembangkan). Ia meberikan contoh bahwa anak kecil itu ciptaaannya Allah robb (yang menciptakan), sedangkan kiai adalah seorang murobbi yang mengembangkan, membangun, meningkatkan, dan menyempurnakan akhlak dan ilmu santri-santri tersebut.

Lebih lanjut, Kang Said menuturkan bahwa pesantren bukan hanya menanamkan cinta Islam, tapi juga cinta tanah air santri-santrinya. “Bagi kiai, tidak penting nama pesantrennya itu terkenal karena yang penting nama desanya. Contoh pesantren Lirboyo, pesantren Tebuireng, dan lainnya, saya kira jarang yang tahu nama pesantrennya. Itu semua kan nama desanya,” terangnya.

Dengan demikian, Kang Said menilai bahwa bangsa ini akan rugi kalau tidak memperhatikan dan meniru sistem pendidikan pesantren. “Tirulah pesantren. Rugi kalau bangsa Indonesia meninggalkan metode pengajaran pesantren. Rugi besar bangsa ini,” pungkasnya.

(Nu.or.id/Arifan) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Sejarah Pon Pes Attauhidiyyah Tegal

Pondok Pesantren Attauhidiyyah yang terletak di Desa Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Lokasinya yang berada di ketinggian, tepatnya di bawah kaki Gunung Slamet, tak jauh dari kawasan wisata Guci, bertemperatur udara yang cukup dingin. Untuk menuju lokasi pesantren tersebut, kita harus melalui jalan yang menanjak, berkelok, melintasi ladang tebu, persawahan, dan pepohonan yang rindang. Bulan juni kemaren Ponpes Attauhidiyyah dipilih sebagai tempat kegiatan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se – Indonesia ke V, sejak 7-10 Juni 2015. Melihat fisik bangunan Ponpes yang dipimpin oleh KH. Ahmad Saidi, terlihat pembangunannya yang sedang dalam proses penyelesaian, terutama asrama santri dan masjid. Pondok Pesantren At Tauhidiyah didirikan terbilang ponpes tertua di Tegal. Pon Pes Attauhidiyyah Didirikan oleh KH. Armia pada tahun 1880, di desa Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Desa Cikura yang konon awalnya bernama desa Pemulia...