Langsung ke konten utama

HTI Mangkir dari Forum Klarifikasi DPRD Jember

HTI Mangkir dari Forum Klarifikasi DPRD Jember

Jember,Santrionline-Undangan DPRD Jember kepada Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk memberikan klarifikasi  soal “tudingan” negatif yang dialamatkan kepada mereka tak mendapat respon. Tak satu pun perwakilan HTI yang datang dalam forum klarifikasi yang digelar di gedung DPRD Jember, Rabu (25/5). "Orangnya tidak datang, surat jawaban juga tak ada. Padahal, undangan sudah kami kirim seminggu yang lalu," kata Wakil Ketua DPRD Jember, Ayub Junaidi saat membuka rapat.

Tanpa kehadiran pihak HTI, rapat tetap berlangsung. Kali ini yang hadir cukup representatif. Ada Wakil Ketua PD Muhammadiyah Jember Joko Purwanto, Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin, Ketua MUI Cabang Jember Abdul Halim Subahar, Kapolres Jember Sabilul Alif, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jamber KH Afton Ilman Huda, dan sebagainya.

Dalam forum tersebut, KH  Abdulah Syamsul Arifin sangat menyayangkan  ketidakhadiran wakil HTI. Sebab, forum tersebut akan menjadi ajang "pencerahan" bagi stigma negatif yang telah menempel di pihak HTI. Jika HTI mampu menjawab anggapan sejumlah pihak seputar pembangkangannya terhadap NKRI dan ideologi Pancasila sesuai dengan dalil-dalil yang valid dan fakta-fakta yang ada, maka dengan sendirinya citra HTI akan terangkat. Namun jika mereka tida bisa menjawab, maka HTI tidak bisa lagi berkelit. "Kalau gentle, seharusnya HTI datang. Atau ini memang tanda bahwa apa yang dituduhkan masyarakat itu benar adanya," jelas Gus A'ab, sapaan akrabnya.

Ketidakhadiran HTI disayangkan Wakil Ketua PD. Muhammadiyah Jember, Joko Purwanto. Menurutnya, pihaknya sengaja memenuhi undangan tersebut  untuk berdebat  dengan HTI. "Maksud saya, kita berperang dalam pemikiran. Secara prinsip saya setuju dengan NU. Sebab, NU dan Muhammadiyah sama-sama berjuang menegakkan NKRI. Makanya, kita tidak rela kalau ada oknum yang ingin memecah belah NKRI," jelasnya.

Karena HTI sudah mengacuhkan undangan, maka rapat memutuskan tak perlu lagi mengundang HTI untuk  klarifikasi. "Kami segera membuat rekomendasi terhadap bupati terkait dengan larangan kegiatan HTI. Rekomendasi itu masih akan dibahas di tingkat pimpinan dewan," tukas Ayub saat menutup rapat. (Nuonline/Abdul Wahab)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KH. KI AGENG HASAN BESARI TEGAL SARI PONOROGO - GURU PUJANGGA KI RONGGO WARSITO

Pada paroh pertama abad ke-18, hiduplah seorang kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari di desa Tegalsari, yaitu sebuah desa terpencil lebih kurang 10 KM ke arah selatan kota Ponorogo. Di tepi dua buah sungai, sungai Keyang dan sungai Malo, yang mengapit desa Tegalsari inilah Kyai Besari mendirikan sebuah pondok yang kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Tegalsari. Dalam sejarahnya, Pondok Tegalsari pernah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di Pondok ini. Mereka berasal dari hampir seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, misalnya desa Jabung (Nglawu), desa Bantengan, dan lain-lain. Jumlah santri yang begitu besar dan berasal dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang itu menunjukkan kebesaran lembaga pendidikan ini. Alumni Pondok ini banyak yan...

Sejarah Pon Pes Attauhidiyyah Tegal

Pondok Pesantren Attauhidiyyah yang terletak di Desa Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Lokasinya yang berada di ketinggian, tepatnya di bawah kaki Gunung Slamet, tak jauh dari kawasan wisata Guci, bertemperatur udara yang cukup dingin. Untuk menuju lokasi pesantren tersebut, kita harus melalui jalan yang menanjak, berkelok, melintasi ladang tebu, persawahan, dan pepohonan yang rindang. Bulan juni kemaren Ponpes Attauhidiyyah dipilih sebagai tempat kegiatan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se – Indonesia ke V, sejak 7-10 Juni 2015. Melihat fisik bangunan Ponpes yang dipimpin oleh KH. Ahmad Saidi, terlihat pembangunannya yang sedang dalam proses penyelesaian, terutama asrama santri dan masjid. Pondok Pesantren At Tauhidiyah didirikan terbilang ponpes tertua di Tegal. Pon Pes Attauhidiyyah Didirikan oleh KH. Armia pada tahun 1880, di desa Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Desa Cikura yang konon awalnya bernama desa Pemulia...

Pengalaman Rihlah ke Ponpes Lirboyo

Oleh: Fadh Ahmad Arifan (Alumni Pascasarjana UIN Maliki Malang) Libur hari Paskah pada bulan Maret 2016, saya manfaatkan untuk rihlah ke kota Kediri. Menanti 8 tahun lamanya, akhirnya atas izin Allah swt, saya yang tak pernah nyantri ini dapat menjelajahi Pesantren salaf terbesar di Jawa timur. Tak seperti Ponpes Tebu ireng, Ponpes Darunnajah, Ponpes as-Salaam dan Ponpes Gontor yang bercorak modern, Ponpes Hidayatul Mubtadiien Lirboyo sama dengan Ponpes Sidogiri Pasuruan dan Ponpes al-Falah Ploso yang bercorak Salaf. Walaupun Salaf, Santri di Lirboyo punya keunggulan dalam ilmu tata bahasa Arab dan Hafalan kitab alfiyahnya.  Dr. Isyroqunnajah dosenku yang mengajar mata kuliah Qawaid fiqhiyyah, hafal isi kitab Alfiyah. Kini beliau sudah berkeluarga, istrinya penghafal Quran dan diamanahi menjadi ketua PCNU kota Malang. Ponpes Lirboyo sama dengan Ponpes Gontor, Ponpes Tebu ireng, Ponpes Sidogiri dan Pesantren Ngalah, punya penerbitan buku dan majalah. Santri tingkat aliyah didorong m...