Langsung ke konten utama

Harlah Ke-29, Pesantren Al-Abror Tegaskan Komitmen Lestarikan Budaya Lokal

Pamekasan, Santrionline ~ Memasuki umur ke-29, Pesantren Al-Abror terus bergerak melestarikan estetika budaya dengan etika agama. Untuk hal itu, pesantren di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan tersebut menggelar seminar pra-harlah ke-29 di Pendopo Budaya Rumah Dinas Wakil Bupati Pamekasan, Kamis (5/5), bekerja sama dengan Ikatan Mahasiswa Alumni Al-Abror (Ikmal).

Acara tersebut sengaja digelar dalam rangka menyambut dan memeriahkan peringatan harlah ke-29 Pesantren Al-Abror yang hendak diselenggarakan pada 21-31 Mei mendatang.

Seminar yang mengusung tema 'Melestarikan Estetika Budaya dengan Etika Agama' itu menghadirkan tiga nara sumber berkompeten, Yakni Haikal Atiq Zamzami (Ketua Pimpinan Wilayah IPNU Jatim), Abdullah Muhdi (Wakil Sekretaris Umum Pimpinan Pusat IPNU) dan Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga dan Kebudayaan (Disporabud) Kabupaten Pamekasan.

Acara yang diikuti 250 peserta tersebut dihadiri dan dibuka langsung oleh pengasuh Pesantren Al-Abror KH. A. Syatibi Suyuthi. Dalam sambutannya, Kiai Syatibi mengapresiasi seminar yang dipelopori oleh PK. IPNU-IPPNU Al-Abror dan IKMAL tersebut.

"Saya bangga terhadap kalian. Meskipun kalian masih tingkatan pimpinan komisariat yang notabene kepengurusan paling bawah dalam organisasi IPNU-IPPNU, tapi kalian sudah mampu mandiri dengan menyelenggarakan acara bergengsi di pendopo budaya ini," puji penceramah muda tersebut.

Selain itu, Kiai Syatibi menegaskan, tema besar acara tersebut bisa mempertegas peran pesantren sebagai penerus perjuangan Wali Songo dalam mempertahankan estetika budaya lokal yang telah sesuai dengan etika agama dan merevisi atau mengubah isi budaya yang belum sesuai dengan agama tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya itu sendiri.

"Metode dakwah ulama Indonesia itu dari dulu hingga kini selalu menghormati estetika budaya lokal. Namun, esensinya selalu disesuaikan dengan etika agama. Berbeda dengan sebagian kelompok yang hanya bisa menuduh bid'ah dan syirik pada kelompok lain yang berbeda dengan dirinya, serta terkesan memaksakan kehendak untuk mengikuti budaya kelompoknya," tegas Gus Eby, sapaan akrab Kiai Syatibi Suyuti.

Sementara itu, Ketua PW IPNU Jawa Timur Haikal Atiq Zamzami dalam paparannya menjelaskan, tema besar yang diusung dalam harlah ke-29 Pesantren Al-Abror kali Ini penuh makna yang sangat sesuai dengan kondisi kekinian.

"Tema besar ini sangat menarik dan penuh makna filosofi. Tidak cukup satu semester di bangku kuliah meskipun hanya untuk mengurai tema ini," ujar pria berkaca mata tersebut. Selain Itu, ia juga mengapresiasi terhadap semangat semangat juang kader-kadernya di PK. IPNU-IPPNU Al-Abror.

"Semoga Al-Abror ini ke depan akan terus mampu mencetak dan melahirkan kader-kader potensial, militan dan istiqamah pada perjuangan membela Aswaja seperti yang telah dibuktikan saat ini," pungkas Ketua PW. IPNU Jatim yang juga peneliti kenamaan tersebut.

Ditemui terpisah, Ketua Ikmal A. Munawwir Syadzali menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung sukses dan lancarnya acara tersebut. Selain itu, ia juga menjelaskan maksud dan tujuan digelarnya acara itu.

"Acara ini dalam rangka menyambut dan memeriahkan harlah ke-29 Pesantren Al-Abror sebagai wujud bakti kami pada pesantren tercinta. Dipilihnya pendopo budaya sebagai tempat acara karena sesuai dengan tema besar harlah Pesantren Al-Abror kali ini yang mengusung konsep kebudayaan dan keagamaan," tandas Munawwir yang juga diamini oleh Ketua PK. IPNU Al-Abror Thoriq Al-Muaddham dan Ketua PK. IPPNU Al-Abror Riris Sakinah.

(NUonline/ Irma Andriyana)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Salah Ambil Toples

Seorang santri, sebut saja namanya Tholib, dipanggil untuk menghadap kiainya. Karena mungkin merasa sungkan jika sowan sendirian, akhirnya Tholib mengajak seorang santri senior. Sesampainya di kediaman pengasuh, Tholib disuruh kiayinya membuatkan teh.<> Kiai: " Kang, gaweo dewe teh nang dapur mburi !" (Kang, silahkan membikin teh sendiri di dapur belakang). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Setelah teh siap dihidangkan, Tholib membawanya ke ruang tamu. Merasa ada yang kurang di meja lantaran hanya ada beberapa gelas berisi teh, lantas sang Kiai menyuruh Tholib untuk mengambil kue di dapur juga. Kiai: " Kang, nek ono jajanane, jukuken toples nang dapur! " (Kang, kalau ada kue, ambil saja toples di dapur). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Begitu sampai di dapur. Tholib menjumpai sebuah toples di dapur dan langsung mengambilnya, tanpa memastikan isi yang ada di dalamnya. Sembari meletakan toples di meja, tanpa basa-basi Tholib langsung membuk...