Langsung ke konten utama

NGGANDULI SARUNG KYAI

NGGANDULI SARUNG KYAI

Oleh : Habib Anis Sholeh Ba’asyin, Pengasuh Suluk Maleman

Mbah Madun, sapaan akrab untuk Kyai Muhammadun dari Kajen-Pati, semasa hidupnya -sampai akhir 50an- dikenal dengan tindakan-tindakannya yang sering ‘eksentrik’. Bayangkan, sebagai seorang kyai yang alim dan disegani di daerahnya, hampir tiap malam tanpa segan-segan dia keluar masuk tempat-tempat kumuh dan rawan, tak terkecuali tempat pelacuran.

Bahkan, bila punya uang, tanpa malu dia akan mem-booking beberapa pelacur sekaligus. Tentu bukan untuk dilayani, tapi malah melayani: mengajari mereka mengaji atau dasar-dasar agama lainnya. Atau paling tidak -kalau suasananya dianggap tidak tepat- cukup dengan menyuruh mereka beristirahat dan tidak melayani tamu; sehingga minimal malam itu mereka tidak berbuat dosa.

Karena penasaran, sahabatnya sesama kyai suatu saat sempat mempertanyakan sikap ‘eksentrik’ Mbah Madun ini: kenapa dia begitu perhatian terhadap kalangan yang dianggap sampah oleh masyarakat, tapi terkesan abai terhadap tugasnya sendiri sebagai kyai di tengah masyarakatnya.

“Lho, disini kan sudah banyak yang mengajar?” jawabnya ringan. “Sementara orang-orang itu, siapa yang mengajar? Bayangkan, kalau di hari kiamat mereka protes dan menolak masuk neraka, karena merasa belum pernah mendapat informasi agama yang memadai! Pada saat diseret ke neraka, mereka pasti akan ngganduli sarung kyai-kyai disini! Kyai-kyai yang mereka anggap tidak mengajari mereka tentang agama, tentang surga dan neraka! Lha kalau diganduli seperti ini kan payah! Para kyai bakal jatuh bangun, kesrimpet-srimpet sarungnya sendiri untuk berjalan ke surga!”

***

Dari dulu kita diajari: manusia tidak hidup sendiri. Langsung tidak langsung satu sama lain selalu terkait. Bahkan tidak ada satupun bagian dari semesta ini yang tak terhubung satu sama lain. Setiap tindakan kita -kecil atau besar, baik atau buruk- akan berakumulasi sedemikian rupa, menjadi gerak penentu sejarah. Kepak seekor kupu di Afrika pun misalnya, akan berakumulasi sedemikian rupa sehingga sekian bulan kemudian akan berbentuk badai di Australia. Ini fakta sederhana, tapi sulit muncul dalam kesadaran. Kita sering lupa, bahwa banyak bagian dari eksistensi kita terbentuk karena topangan milyaran unsur di alam semesta; dan sebaliknya, tindakan kita akan mempengaruhi arah sejarah semesta. Suka tidak suka, begitulah kenyataannya dan begitulah sejarah terbentuk.

Padahal tindakan kita hampir selalu dituntun oleh sudut pandang yang lokal-partikular-fragmentatif. Ketika melihat pohon, kita melupakan unsur air-tanah-udara-matahari yang telah menumbuhkannya. Karena hanya berkepentingan pada pohon, maka kita cuma merasa wajib berurusan dengan unsur-unsur yang langsung berkait dengannya seperti: akar-batang-ranting dan daun saja. Kita tak merasa berhutang pada topangan air-tanah-udara dan matahari.

Atau kalau kesadaran kita sedikit lebih luas, kita masih merasa berhutang dengan air dan tanah tempat tumbuhnya, tapi tetap akan abai akan peran udara dan matahari. Lebih buruk dibanding semua itu, adalah ketika kita begitu terpaku pada buah, sehingga abai terhadap peran akar-batang-ranting dan daun yang menopangnya. Kita hanya merasa perlu berhubungan dengan buah, jadi tak perlu peduli pada akar-batang-ranting dan daun; apalagi sulit-sulit membina kepedulian dengan air-tanah-udara dan matahari.

Inilah tipe pola kaca mata kuda yang paling ‘jahat’; karena penerapan pola kaca mata kuda ini hanya berorientasi pada kepentingan diri atau kelompok saja. Dan celakanya, sadar atau tidak, pola ini yang sering kita terapkan sehingga kita nyaris buta terhadap banyaknya kerusakan -langsung atau tak langsung- dari setiap tindakan atau kebijakan yang kita buat. Pertama, mungkin kita memang begitu rabun untuk bisa melihatnya; atau kalau kita bisa melihatnya, kita akan pura-pura tidak melihatnya. Karena orientasi awalnya memang: sekedar melunaskan kepentingan!

***

Nah, kalau kita pakai logika Mbah Madun, ini semua bakal membuat orang celaka dua kali. Bayangkan, kyai yang lupa menyampaikan kebenaran ke sebagian kalangan saja sudah cukup membuat langkahnya ke surga kesrimpet-srimpet; apalagi kita yang justru menyumbang akumulasi kerusakan ke banyak bagian dari semesta. Ini bukan cuma akan ngganduli kita, tapi justru akan membuat kita dikepung dan diseret-seret ke neraka oleh apapun yang telah kita sumbang kerusakannya. Tak peduli berapa banyak kebaikan yang kita rasa telah kita kerjakan, lebih tak peduli lagi: berapa sering kita pergi haji, berapa rapat jarak umroh kita. Apalagi bila semua itu cuma pencitraan, yang secara ajaib akhirnya malah kita yakini sebagai kenyaataan.

Maka, wahai para pemimpin, wahai para wakil rakyat, wahai barisan abal-abal yang suka memakai nama rakyat, wahai para ‘pelacur’ kebenaran dan kesucian yang suka berwajah manis padahal menyembunyikan pedang; ingatlah: Tuhan dan para malaikatNya tak pernah bisa disogok, jadi hati-hatilah terhadap apapun yang telah dan akan kalian putuskan!

(Sulukmaleman.or.id/Abdul Wahab)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Salah Ambil Toples

Seorang santri, sebut saja namanya Tholib, dipanggil untuk menghadap kiainya. Karena mungkin merasa sungkan jika sowan sendirian, akhirnya Tholib mengajak seorang santri senior. Sesampainya di kediaman pengasuh, Tholib disuruh kiayinya membuatkan teh.<> Kiai: " Kang, gaweo dewe teh nang dapur mburi !" (Kang, silahkan membikin teh sendiri di dapur belakang). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Setelah teh siap dihidangkan, Tholib membawanya ke ruang tamu. Merasa ada yang kurang di meja lantaran hanya ada beberapa gelas berisi teh, lantas sang Kiai menyuruh Tholib untuk mengambil kue di dapur juga. Kiai: " Kang, nek ono jajanane, jukuken toples nang dapur! " (Kang, kalau ada kue, ambil saja toples di dapur). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Begitu sampai di dapur. Tholib menjumpai sebuah toples di dapur dan langsung mengambilnya, tanpa memastikan isi yang ada di dalamnya. Sembari meletakan toples di meja, tanpa basa-basi Tholib langsung membuk...