Langsung ke konten utama

Menjawab Tuduhan Kiai Said Mendukung Hary Tanoe

Menjawab Tuduhan Kiai Said Mendukung Hary Tanoe

Jakarta.Santrionline-Beberapa hari terakhir publik sempat dikejutkan dengan pemberitaan terkait Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mempromosikan Hary Tanoe untuk menjadi presiden. Namun demikian, Wakil Sekretaris Jenderal Nahdlatul Ulama Masduki Baidlowi menyangkal bahwa pemberitaan tersebut tidaklah benar.

Masduki menjelaskan bahwa sebuah berita harus berimbang dan sesuai dengan kaidah kode etik jurnalistik. Ia mengatakan bahwa pemberitaan yang melibatkan Kiai Said tersebut adalah tidak utuh dan hanya sepotong-sepotong.

“Pembicaraan Ketua Umum (Kiai Said) mesti dimuat secara utuh, harus sesuai dengan prinsip 5W plus 1H,” kata Masduki di kantor NU Online, Selasa, (26/4).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa foto-foto Hary Tanoe yang tersebar di berbagai media sosial tersebut adalah kumpulan dari rangkaian kunjungan Hary Tanoe ke berbagai pesantren, termasuk pesantren Nahdlatul Wathon di NTB dan Pesantren Al Falah di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

“Itu (foto-foto itu) adalah kompilasi dari beberapa peristiwa yang dihadiri oleh Hary Tanoe di beberapa pesantren,” terangnya.

Namun, imbuh Masduki, media memberitakan dan menggiring pendapat masyarakat seolah-olah itu adalah satu peristiwa ketika Hary Tanoe bertamu ke pesantren Al Tsaqofah bulan lalu.

“Itu tidak benar dan bersifat fitnah,” tegasnnya.

Hary Tanoe bertandang ke Pesantren Al Tsaqafah asuhan Kiai Said di Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Minggu, (13/3). Dalam lawatannya tersebut, Hary Tanoe hanya berbagi ilmu dan pengalaman kepada para santri Al Tsaqafah.

(Nuonline/Abdul Wahab)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum-Hukum Seputar Tunangan dalam Islam

Oleh: Moh Nasirul Haq, Santrionline - "Duhai para pemuda barang siapa diantara kalian mampu membayar Mahar  maka menikahlah. karena sesungguhnya Hal itu lebih menjaga Pandangan    dan Kemaluan." (Al Hadits) Menikah merupakan sunnah nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi "khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al Qulaisy Yaman. Pertanyaan    :  Apakah tunangan itu? Jawab        : Epistimologi tunangan "yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya." Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga ...

Tradisi Lokal Keagamaan di Bumi Cirebon

Oleh: Mohamad Ramdhany Budaya adalah cipta rasa karsa manusia yang terbentuk dalam setiap daerah. Budaya akan terus berkembang karena mengakomodir banyak hal dimulai dari kehidupan sosial masyrakat yang hidup di daerah tersebut maupun budaya baru yang datang dan bersosialisasi bersama dalam satu daerah. Dalam perkembangannya budaya Cirebon sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam sehingga melahirkan adat yang dijaga oleh masyarakat Cirebon. Berbagai praktik ritual adat di Cirebon dipahami sebagai warisan turun temurun dari para leluhur sehingga pantas untuk dilestarikan dan dijaga. Beberapa adat yang masih bisa disaksikan di Cirebon yaitu; Suroan, Saparan, Mauludan, Rajaban, Ruwahan, Syawalan, Slametan, Khitanan, pernikahan, kematian dan lain sebagainya. Suroan adalah salah satu adat yang dilakukan masyarakat Cirebon pada saatbulan asyura. Kata suro sendiri merupakan kata yang berasal dari kata suro dalam bahasa jawa kuno (kawi) berarti ‘raksasa’ dalam bahasa sansekerta be...

Salah Ambil Toples

Seorang santri, sebut saja namanya Tholib, dipanggil untuk menghadap kiainya. Karena mungkin merasa sungkan jika sowan sendirian, akhirnya Tholib mengajak seorang santri senior. Sesampainya di kediaman pengasuh, Tholib disuruh kiayinya membuatkan teh.<> Kiai: " Kang, gaweo dewe teh nang dapur mburi !" (Kang, silahkan membikin teh sendiri di dapur belakang). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Setelah teh siap dihidangkan, Tholib membawanya ke ruang tamu. Merasa ada yang kurang di meja lantaran hanya ada beberapa gelas berisi teh, lantas sang Kiai menyuruh Tholib untuk mengambil kue di dapur juga. Kiai: " Kang, nek ono jajanane, jukuken toples nang dapur! " (Kang, kalau ada kue, ambil saja toples di dapur). Tholib: " Njeh yai ." (Iya kiai). Begitu sampai di dapur. Tholib menjumpai sebuah toples di dapur dan langsung mengambilnya, tanpa memastikan isi yang ada di dalamnya. Sembari meletakan toples di meja, tanpa basa-basi Tholib langsung membuk...